“Ban sepedaku bukan bocor. Aku sendiri yang mengempeskan.”
“Kenapa kaukempeskan?”
“Agar dapat berboncengan denganmu,” balasnya.
“Ah, kau,” balas Syafruddin. Ia bahagia tiada tara.
‘Begitu betul cintanya Chao-Xing kepadaku, memang tak mungkin rasanya dia berbuat begitu. Itu pasti akal-akalan orang tuanya. Tapi, bagaimana pun, aku tak tak berani lagi datang ke rumahnya. Aku tak mau lagi masuk penjara,’ pikir Syafruddin seorang diri setelah bangkit dari kenangan masa silam.
***
Setelah kesal merasa dikerjai, untuk menghilangkan kekalutan dan agar bisa melupakan Chao-Xing, Syafruddin segera meninggalkan Jambi. Dia menuju Lubuk Linggau dan terus ke Muara Bunga. Di sana, ia menikah dengan seorang gadis. Puluhan tahun kemudian setelah negeri aman, dia kembali ke kotanya, Padang, dan memboyong istri serta dua anaknya. Mereka hidup seadanya.
Baca juga: Darah Daging – Cerpen Kartika Catur Pelita (Haluan, 05 Agustus 2018)
“Alhamdulillah,” ujar Syafruddin usai membaca pengumuman di salah satu kantor pos di kotanya. Di sana dijelaskan bahwa bekas pejuang atau veteran seperti dirinya akan diberi tunjangan pensiun.
Saat mengurus pencairan uang pensiun itu, ia bertemu dengan mantan komandanya di medan perang.
“Syafruddin! Kemana saja selama ini. Sudah lama aku mencarimu untuk dikirim ke sekolah perwira di Surabaya, tapi kau tak pernah kutemukan!”
“Siap salah, ndan. Saat dulu pertama tiba di Kerinci, aku memang mendengar komandan mencariku, tapi aku kira komandan mencariku untuk menyeretku ke pengadilan. Setelah mendengar kabar itu aku melanjutkan pelarian ke Jambi. Kalau aku tahu komandan mencari untuk mengirim ke sekolah perwira, tentu aku segera menemui komandan dan sekarang bisa jadi aku sudah jadi jenderal. Nasib-nasib. Oh, ya, ndan. Bagaiamana keadaan Sudarso yang kutembak dulu?”
“Dia masih hidup dan sudah kembali ke kampungnya.”
“Syukurlah,” katanya. (*)