Azan untuk Bapak

Astaga. Dalam keadaan berkabung semua orang masih sempat mencibir. Dalam keadaan begini bukannya ikut sedih masih saja mencibir saya.

“Apa nggak merasa bersalah ya, anak laki-laki kok nggak bisa mengazani pas bapaknya meninggal?”

“Dia sudah jadi orang kota, maklum saja.”

“Apa sudah lupa kalau ia dulu juga orang desa?”

“Uang. Semua gara-gara uang mungkin.”

“Nah repot juga kalau sudah bicara masalah uang. Uang bisa menyebabkan lupa asal-usul.”

Cukup! Saya tak tahan. Ini bukan waktu yang tepat untuk beradu cibiran! Saya berteriak keras kepada mereka semua.

Baca juga: Huruf – Cerpen Midadwathief (Radar Banyuwangi, 01 Juli 2018)

“Cukup!!! Jika masih mencibir silakan keluar dan pulang!” saya membentak mereka. Mendengar itu Ibu tambah sesenggukan menangis dan akhirnya pingsan lagi di pelukan saya. Tapi bukannya diam, mereka malah tambah mencibir saya.

“Lihat itu, sifat orang kota dibawa kemari.”

“Anak macam apa kamu?”

“Mentang-mentang sudah berduit berani bentak-bentak.”

Loh duit yang kamu bangga-banggakan itu bisa mengazani bapakmu?”

“Bapakmu kangen, butuh kamu, bukan butuh duitmu!”

Semua mendadak menjadi penceramah, mendengar itu saya tambah naik pitam. Saya berdiri dan berteriak lebih lantang kepada mereka.

“Silakan semua pulang! Saya tidak mau melihat siapa pun di sini! Kalau masih saja omongan-omongan itu terdengar di kuping saya, saya robohkan rumah kalian! Paham?”

Napas saya naik-turun, emosi sudah tak bisa dibendung. Saya ancam mereka. Kata-kata keluar mendahului pikiran, begitu saja keluar dari mulut saya.

Loh kok pakai mengancam segala? Mau robohkan rumah kami? Silakan saja kalau berani! Mau dibuat apa? Gedung-gedung belanja? Kantor? Jalan tol? Bandara? Silakan! Silahkan gusur sawah kami! Memangnya kamu kuat ndak makan nasi, hah?”

“Sombong!”

“Nah ini sifat binatang!”

“Kamu sanggup makan beton? Silakan saja kalau mau menggusur!”

“Tapi ingat! Kuburan bapakmu di sini!”

Arsip Cerpen di Indonesia