Baca juga: Bulan Pemakan Ternak – Cerpen Eko Setyawan (Minggu Pagi, 16 Agustus 2018)
Saya terbangun di ruang tamu rumah. Suasana rumah sedang berkabung, Bapak meninggal kemarin dan mendengar kabar itu saya langsung bergegas pulang kampung. Kerja saya tinggal, para tetangga dan saudara sibuk menenangkan Ibu saya yang masih juga menangis tak henti-henti. Saya mencoba duduk mengingat-ingat apa yang terjadi pada saya. Seorang tetangga memberi saya air minum lantas berkata, “Sudah, kamu pingsan saat lihat Bapakmu sudah dibungkus kafan dan jarik. Ayo hari ini jadwal Bapakmu dikuburkan, siap-siap mengazani Bapakmu.”
Subhanallah. Ternyata semua kejadian itu hanya mimpi, tidak ada cibiran dari para tetangga dan saudara, semua berkabung dan memancarkan wajah sedih. Semua kejadian itu hanya mimpi dan pengingat bagi saya. Saya lantas mendekati jenazah Bapak dengan agak lemas, saya kaget ketika mendekati jenazah Bapak, samar-samar saya mencium harum yang sama seperti milik telapak tangan orang tua yang ternyata hanya sebuah mimpi. Saya cermati lagi dan memang harumnya sama! Saya terkulai lemas dan dari pintu rumah, saya lihat laki-laki tua dalam mimpi saya itu menggandeng tangan Bapak dan berjalan entah ke mana…
Haryo Pamungkas, lahir di Jember, Jawa Timur. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan online.