Suasana yang sebelumnya sedih berubah menjadi riuh penuh emosi. Di saat seperti ini masih saja orang-orang mencibir. Semua omongan-omongan masih terus berlanjut. Tepat saat semua sedang emosi, muncul seorang laki-laki bersarung dan berpeci hitam dari pintu rumah. Siapa dia? Mungkin Kiai baru desa, wajahnya asing. Ia berjalan santai masuk rumah dan menengahi kejadian ini.
“Sudah. Sudah. Bukan waktunya untuk itu. Mungkin silakan masing-masing dari kita pulang, biarkan keluarga berkabung dulu.” Katanya. Masyaallah. Kata-katanya biasa namun entah mengapa mendamaikan hati saya. Orang-orang yang sebelumnya saling berbisik dan berdiri beradu cibiran dengan saya juga luluh oleh kata-katanya.
Mendengar kata-kata laki-laki sepuh itu semua mendadak diam, mereka menurut dengan kata-katanya dan pergi meninggalkan rumah satu per satu. Kemudian ia berkata lirih kepada saya.
“Anak muda, baringkan ibumu di dipan dulu. Ambilkan air minum juga.”
Saya menatapnya sekilas dan langsung menuruti perkataannya. Saya langsung membaringkan Ibu di dipan, lantas mengambilkan air minum untuk Ibu dan orang tua itu.
“Bapakmu titip pesan.” Katanya membuka obrolan.
Saya hanya diam mendengarkan kata-katanya.
“Ojo kesemsem karo duit, ojo sumringah karo jabatan.”
Mendengar itu saya menitikkan air mata. Pesan Bapak, pesan untuk anaknya yang terlalu sibuk diburu waktu…
“Bapakmu wong apik, Insya Allah husnul khotimah.”
Lagi-lagi saya hanya diam mendengarkan kata-katanya. Ibu masih berbaring di dipan belum juga siuman, rumah sepi, suara hanya berasal dari laki-laki tua itu.
“Kowe cah apik, Le. Tapi ojo mung duit sing mbok kirimno.”
Baca juga: Ada yang Mencuri Imajinasiku – Cerpen Eni Kusuma (Radar Banyuwangi, 12 Agustus 2018)
Petuahnya terus keluar dari mulut laki-laki itu. Setiap kata saya resapi, caranya menasihati sangat menyejukkan. Damai, tidak menyerang, tidak menyalahkan.
Mendengar nasihat yang terus keluar dengan sejuk itu membuat saya menangis sejadi-jadinya. Saya mulai merenung dan mencoba meresapi kata-kata para tetangga saya tadi. Apa benar saya anak durhaka? Apa salah jika saya tidak bisa mengazani Bapak? Apa benar saya sudah kalap dengan uang? Astaghfirullah. Saya tak kuasa dan terus terisak menangis merenungkan perbuatan saya.
Bapak… bapak tidak butuh uangku, bapak butuh anaknya…
Saya terus menangis dalam renungan, petuahnya menembus hati saya, membuat rasa bersalah semakin menjadi-jadi kepada Bapak dan Ibu. Tiba-tiba mendadak semua seperti berputar-putar, macam ada guncangan hebat lalu kemudian menjadi gelap seluruhnya. Sebelum itu, samar-samar saya lihat laki-laki tua itu menepuk pundak saya dan menaruh telapak tangannya di mata saya. Subhanallah. Begitu harumnya. Lantas dalam samar-samar gelap saya melihat laki-laki tua itu keluar rumah, di pintu ada seseorang yang begitu saya kenali. Wajahnya, tubuhnya, pakaian yang ia kenakan, laki-laki yang menunggu di pintu rumah itu menatap saya dan tersenyum. Lalu ia berjalan bersama laki-laki tua yang petuahnya menembus hati saya itu. Cahaya begitu terangnya dalam pandangan saya kemudian semua mendadak gelap.
***