Meski sudah ratusan kali bermain, tapi tetap saja tak sekalipun keberuntungan menghampiri Raflizon. Tapi bukannya berhenti, lelaki itu malah semakin penasaran. Kegilaannya menjadi-jadi tersebab seringkali angka yang ia pasang itu hanya meleset satu atau dua angka saja. Kebiasaannya pun mulai berubah, dari sekadar membaca buku Tafsir Mimpi, sekarang beralih pada hal-hal klenik dan lebih tak masuk akal lagi.
Berawal dari saran Mursid—kawannya sesama penggila togel—malam itu mereka berencana mendatangi sebuah makam keramat. Kata orang, makam keramat itu tempat ampuh mengalap berkah. Penunggunya kerap memberi wangsit kepada para peziarah.
Sejak berembus kabar jika Amran menang ratusan juta setelah diberi wangsit oleh penunggu makam, maka tempat wingit itu pun mulai diminati para penggemar togel. Dan tentu saja, salah satu di antara mereka adalah Raflizon.
Selentingan cerita berkembang di tengah-tengah warga, bahwa di makam keramat yang ada di atas bukit itu terkubur jasad jawara sakti yang lidahnya mampu mengabulkan segala keinginan. Demi mendengar desas-desus yang terasa manis dan menjanjikan itulah Raflizon bermaksud mencoba peruntungan.
“Kita ke sana malam ini,” ucapnya pada Mursid. “Sudah kutanyakan pada Amran, benar katanya dia mendapat wangsit dari sana. Tak ada salahnya kalau kita juga mencoba.”
“Bagaimana kalau malam besok saja, kita pergi ramai-ramai ke sana?” tawar Mursid setengah ragu-ragu.
Baca juga: Riwayat Gelang Akar – Cerpen Adam Yudhistira (Lampung Post, 29 Juli 2018)
Bagaimanapun juga, makam keramat itu ada di puncak bukit yang dikelilingi hutan belantara. Tidak jarang para pencari kayu bakar bersaksi bahwa mereka bertemu harimau loreng sebesar sapi atau beruang hitam yang sedang mencabik-cabik kelinci hutan di sana. Pergi ke sana malam hari, jelas menambah risiko dua kali lipat bertemu hewan-hewan buas itu. Mursid hendak menolak, namun merasa tak enak hati pada Raflizon.
“Jangan! Penunggu makam itu tak akan muncul kalau banyak orang. Cukup kita berdua saja,” seru Raflizon dengan nada tamak yang kentara.
Mursid mengangguk. “Temui aku di gardu poskamling pukul delapan,” katanya disambut anggukan sepakat dari Raflizon.
Di rumahnya, Raflizon tak memberitahu Halimah perihal rencana pergi ke makam keramat malam itu. Sudah bosan ia mendengar omelan buruk perempuan itu. Memberitahunya tentang niatan mencari wangsit ke makam keramat, hanya memantik api untuk berbalah. Oleh sebab itu, Raflizon memilih diam dan merahasiakannya.
***