Togel

Bangunan makam keramat itu tampak angker di bawah redup sinar rembulan. Tapi keangkeran seperti itu tiada artinya bagi Raflizon. Niatnya sudah bulat sempurna. Rasa takut dan seram menguap dari dirinya, teralihkan oleh angan-angan muluk tentang deretan angka yang akan membuatnya kaya raya.

Lelaki itu berdiri membelakangi Mursid. Matanya menatap lurus ke puncak cungkup makam. Bayang-bayang pohon ketapang raksasa di belakangnya menambah kesan menakutkan, seolah-olah pohon itu adalah penjaga raksasa yang siap melumat siapa saja yang berani coba-coba mengusik ketenangan jasad yang terbaring di dalamnya.

“Biar aku yang ke dalam. Kautunggu saja di luar,” kata Raflizon tanpa menoleh ke belakang. Di wajahnya tersungging seringai penuh rahasia.

“Begitu lebih baik,” jawab Mursid. “Tapi, kalau kau mendapat wangsit, jangan disimpan sendirian. Kata orang, keculasan akan membawa bibit kesialan.”

Raflizon tertawa. “Tenang saja. Tak perlu khawatir soal itu. Aku ini bukan pula bangsanya orang culas. Berapapun nanti angka yang kudapat, pasti kubagikan kepadamu.”

“Baiklah. Aku menunggu di sini sampai selesai. Sementara kau ke dalam, aku akan menyalakan api.”

Raflizon berdeham sekali, lalu menuju pintu makam. Keriut pintu lapuk itu menyentak keheningan malam. Raflizon mendorongnya dan melangkah ke dalam dengan hati-hati. Di kejauhan terdengar lolong anjing hutan, bersusul-susulan dengan derik serangga malam. Setelah mendapat tempat yang dirasanya aman, lelaki itu duduk bersila, lalu mulai memejamkan mata.

Baca juga: Depati Kincung – Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 22 Oktober 2017)

Suasana di dalam cungkup makam itu gelap pekat. Sedikit panas. Bau lumut meruapi rongga penciuman. Bau itu mengisyaratkan bahwa bangunan itu jarang sekali didatangi manusia. Sesekali terdengar ‘kut-kut’ burung hantu di pohon ketapang di belakang cungkup makam. Semilir angin membuat daun-daunnya bergemerisik, memunculkan perasaan ngeri di hati Raflizon. Namun, suasana seram itu tak menyurutkan niatnya sama sekali.

Setengah jam berlalu tanpa terasa. Raflizon masih duduk bersila di dalam kepekatan. Nyamuk-nyamuk berdengung di telinganya, mencari cara melahap darah dari tubuhnya. Dia mengibaskan tangan sesekali, mengusir serangga-serangga haus darah itu dari telinga dan wajahnya. Sekitar dua-tiga jam kemudian, rasa kantuk mulai menyerang. Tapi sebisa mungkin dia bertahan. Sesuai petunjuk Amran, jika rasa kantuk itu datang, dia harus melawan.

Arsip Cerpen di Indonesia