Raflizon mematuhi petunjuk itu sekuatnya. Sedikit pun dia tak bergeser dari posisi duduknya, meski dari arah punggungnya, terdengar bunyi desir ganjil seperti suara benda berat yang ditarik di atas lantai. Raflizon menunggu dengan degub jantung memburu. Pikirnya, mungkin inilah sosok penunggu makam yang akan mengantarnya jadi jutawan.
Raflizon memejamkan mata rapat-rapat. Sesuatu yang berat dan dingin itu menjalar di lutut dan pahanya. Sekali lagi, lelaki itu berpikir bahwa ini ujian dari penunggu makam. Dia terus bertahan dan tak tergoda membuka mata. Sesuatu yang berat itu mulai naik ke dadanya. Dan saat napasnya mulai tercekik, barulah lelaki itu tersadar, bukan wangsit yang didapatnya, melainkan maut yang sudah berada di depan mata. Sesaat sebelum kesadarannya hilang, dia masih bisa merasakan tulang-tulang rusuknya berderak patah dan cairan hangat meleleh dari hidung dan telinganya.
***
Mursid terbangun oleh kicau ciblek di dahan pohon ketapang. Setengah enggan, dia menoleh ke pintu makam. Raflizon belum keluar juga. Seharusnya kawannya itu sudah selesai dengan hajatnya, dan memberi tahu jika mendapat wangsit atau tidak. Semula Mursid mengira Raflizon meninggalkannya diam-diam saat dia sedang tertidur, tapi dugaan itu buyar setelah dilihatnya sepasang sandal masih tergeletak di depan pintu makam. Sandal itu bahkan belum beralih sedikit pun sejak tadi malam.
Setelah habis rokok dua batang, Mursid mulai gelisah. Dia memanggil-manggil Raflizon, namun hening tak ada jawaban. Dia meloncat turun dari dahan trembesi tempat dia tidur semalaman, dan bermaksud memastikan keadaan Raflizon di dalam cungkup makam. Bau amis menyeruak ketika Mursid membuka pintu itu pelan-pelan.
Mursid melongok ke dalam. Nyaris pingsan dia jika tidak keburu sadar bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan. Seekor ular sebesar pohon pinang sedang berusaha menelan tubuh Raflizon. Dari mulut ular yang sedang mengembang itu terlihat ujung kaki kawannya. Perut ular itu mengkilat dan mengencang.
Mursid menjerit histeris sambil lari lintang pukang. Dengan terengah-engah dia menyampaikan kabar pada Halimah dan orang-orang, perihal Raflizon yang mati ditelan ular.
Â
Adam Yudhistira (1985) penulis bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Buku kumpulan cerpen terbarunya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).