Setiap Hari Raya Kurban, panitia membagikan daging kurban pada warga. Mak selalu mendapat bagian. Ia menyuruh adik perempuanku untuk memasaknya. Biasanya adikku memasak daging itu menjadi dua bagian, dimasak kuah dan dijadikan abon. Mak selalu menyuruh adikku untuk membagikan dengan tetangga terdekat, meski sudah ada jatah masing-masing. Di luar Hari Raya Kurban, Mak tetap membagikan makanan ke tetangga, ketika ada acara selamatan atau syukuran.
“Kenapa Mak selalu membagi-bagikan makanan kepada tetangga?” ucap adikku yang paling bungsu.
“Berbagi kepada orang lain itu tak akan membuat kita kekurangan, yang ada hanyalah berkah. Tidak mungkin kebahagiaan itu tercipta jika kita tidak membagikan kepada orang lain,” ucap Mak.
“Mak masih ingat betul apa yang dikatakan Kyai Gofur beberapa tahun silam, ketika ada pengajian khitanan anak tetangga. Kyai Gofur mengatakan kalau sedekah yang kita berikan kepada orang lain, jika diniatkan untuk sesuatu hajat, Insya Allah akan dikabulkan. Selain itu, jika kita mengharap untuk kepentingan akhirat, kita juga akan mendapatkannya,” lanjut Mak.
Baca juga: Maria dan Roh-roh Jahat – Cerpen Anas S. Malo (Radar Surabaya, 20 Mei 2018)
Mak sudah lama menginginkan untuk bisa berkurban di Hari Raya Kurban dan berangkat haji. Impian itu masih tetap kukuh dalam benaknya, tetapi keinginan itu belum terpenuhi. Setelah Bapak meninggal, Mak menjadi tulang punggung dan setelah Mak sering jatuh sakit, akulah yang menjadi tulang punggung dari dua adikku dan Mak, sedangkan aku hanya kuli bangun dan penulis cerita pendek.
Beberapa kali, aku menyisihkan uang untuk biaya kawin tetapi selalu ada kebutuhan mendadak. Seminggu yang lalu untuk menebus obat Mak. Selain itu, adikku bungsu waktunya masuk sekolah. Dengan sangat terpaksa aku memecah celenganku.
***
Tahun ini, kesehatan Mak semakin menyusut. Tubuhnya semakin tampak sayu, tubuhnya semakin renta. Dalam seminggu sudah tiga kali periksa ke puskesmas tetap saja tak ada pada perubahan. Ia sering melamun, seperti ada yang dipikirkan. Tatapannya dalam menuju jendela yang terbuka. Tempias sinar mentari menembus dinding kayu yang berlubang.
Aku sudah berjanji akan membelikan kambing kurban untuk Mak. Aku mulai menabung sedikit demi sedikit. Hasil kerja serabutan kusisihkan. Dari mulai hasil dari menjadi kuli, tukang pijat sampai jadi penulis cerita pendek. Tetapi belum cukup untuk membeli kambing kurban, sedangkan Hari Raya Kurban tinggal beberapa hari lagi. Aku bekerja siang malam untuk menutupi kekurangan membeli kambing kurban. Biasanya siang aku bekerja sebagai kuli bangunan, sedangkan jika malam, aku membuka jasa pijat. Kalau pun tidak ada yang membutuhkan jasa pijat, biasanya aku menulis cerita pendek.