Kambing yang Jatuh dari Langit

“Kambingnya gemuk sekali,” ucap Mak.

“Kambing siapa itu, Mak?” tanyaku. Mak terdiam sejenak, seperti tidak percaya aku menanyakan hal itu.

“Bukankah tadi kau yang bilang kalau kau yang membeli kambing di pasar? Lalu kau ingin, Mak menuntun kambing ini keluar setelah Mak salat Zuhur? Kau membelinya dengan harga 1,4 juta, bukankah seperti itu?” tanya Mak terheran. Aku tercenung, seolah tak percaya.

“Tidak, Mak. Tadi aku gagal mendapatkan kambing kurban. Semua makelar kambing menertawakanku karena uangnya tidak cukup. Aku sempat bingung, jika Mak menanyakan kambing yang akan digunakan untuk kurban, sedangkan aku hanya punya uang 600 ribu,” jawabku gugup.

Baca juga: Sepotong Roti Hijau – Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 19 Agustus 2018)

“Siapa lelaki yang memberikan kambing itu, Mak?” lanjutku, tak percaya.

“Lelaki itu persis denganmu. Mak tidak berbohong. Mak masih sadar ketika kau masuk ke dalam rumah sambil menuntun kambing ini. Mak tidak mengigau,” jawab Mak memastikan.

“Ternyata Allah telah menunjukkan kebesarannya dengan mengirimkan kambing ini untuk Mak,” tutur Mak, air matanya berkaca-kaca, kemudian sujud syukur.

***

Takbir berkumandang. Aku dan Mak berangkat ke masjid. Tanganku menuntun kambing yang akan diserahkan ke panitia kurban. Sesekali kambing itu mengembik. Para warga sudah masuk ke dalam masjid, sebagian ada yang di serambi. Pelaksanaan Salat Id berjalan dengan khusyuk. Setelah Salat Id usai, beberapa warga duduk bersila di serambi. Panitia kurban berkumpul di teras masjid. Panitia kurban sibuk menjegal sapi, sedangkan panitia yang lain sibuk menyembelih kambing. Kulihat Mak dari serambi melihat kambing terakhir disembelih. Itu kambing Mak. Wajah Mak berseri-seri. *

 

Anas S Malo aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan sejumlah karyanya telah diterbitkan di media massa.

Arsip Cerpen di Indonesia