Kutengok dari balik pintu, Mak masih terbaring mengenakan mukena dengan mata terpejam menggenggam tasbih berwarna hitam. Aku merasa kasihan dengan Mak, diusianya yang menginjak hampir 66 tahun, melihat aku masih membujang. Padahal teman-teman sebayaku hampir semua sudah berkeluarga dan punya pekerjaan tetap. Sebagai anak sulung, seharusnya, aku menjadi kebanggaan bagi Mak dan kedua adikku.
Mak punya dua keinginan yang sampai saat ini belum terwujud, yaitu berangkat ke tanah suci dan berkurban di Hari Raya Idul Adha. Setidaknya untuk keinginan yang kedua aku berusaha mewujudkannya. Aku memberanikan diri untuk pergi ke pasar kambing dengan uang terbatas. Dari tempat demi tempat aku datangi, mengelilingi pasar kambing, tetapi aku hanya dijadikan bahan tertawaan. Menjadi bahan ejekan para makelar kambing. Memang untuk mencari kambing yang sudah layak untuk dijadikan sebagai hewan kurban sangat sulit dengan hanya uang 600 ribu.
Aku selalu berharap ada penjual kambing yang berbaik hati memberikan kambingnya dengan uang 600 ribu. Tetapi, sepertinya sangat sulit menemukan orang seperti itu. Hampir di semua tempat aku datangi dan seperti itu adanya, penjual kambing selalu menertawakanku.
Baca juga: Hujan Belum Turun di Teluk Kao – Cerpen Deasy Tirayoh (Media Indonesia, 05 Agustus 2018)
“Uang 600 ribu mau membeli kambing kurban? Memangnya kambing Mbahmu?” ucap penjual kambing.
Aku di ambang putus asa. Aku hanya bisa menundukkan kepala, duduk di depan tenda yang berisi berpuluh-puluh ekor kambing. Aku bangkit, melangkah pulang. Aku berjalan terbayang wajah Mak. “Apa yang harus aku lakukan dengan uang Rp600 ribu?” gumamku.
“Jika aku menabung kembali uang ini, apakah aku bisa menahan agar tidak dibuat kebutuhan yang lain? Apakah Mak masih hidup jika harus menunggu Hari Raya Kurban tahun berikutnya,” pikirku. Mungkin membelikan kambing kurban untuk Mak adalah permintaan yang masuk akal daripada permintaan memberangkatkan haji Mak.
Sepanjang jalan, aku melawati tenda-tenda kambing. Suara-suara riuh embikan kambing membuat wajah Mak semakin jelas. Aku tidak tahu, jawaban yang harus aku katakan jika seandainya ia bertanya ketika aku pulang? Dengan terpaksa, aku pulang dengan wajah kusut, lelah, lelah badan, lelah pikir.
Kulihat, Mak menuntun kambing di halaman rumah. Kambing itu gemuk dan besar. Terlihat sangat prima. Mak terlihat tidak seperti orang yang sakit, bahkan ia memberi makan kambing itu. Wajah Mak sumringah. Aku bergegas menuju ke arah Mak.