Episode-episode kekelaman itu berakhir setelah mereka menikah. Orang-orang bilang, mereka yang telah memuaskan hasrat kenakalan sebelum menikah akan cenderung hidup tertib dan baik setelah berumah tangga. Dalam kasus mereka, penyataan itu mendapatkan pembenaran. Suaminya meninggalkan botol minuman keras dan obat-obatan terlarang lantas menghabiskan hari dengan membaca dan mengarang cerita, membiayai kehidupan mereka yang sederhana sebagai penulis yang meski tidak begitu sukses secara finansial, namun telah mampu menerbitkan tiga kumpulan cerpen dan satu novel.
Sedangkan ia sendiri terdorong oleh perasaan berdosa di masa remajanya, mulai mengganti kaus ketat dan jins belel dengan gamis dan jilbab serta memilih memanfaatkan waktu luang yang ia miliki di antara kesibukan berjualan kosmetik online dengan mengaji. Dari sesama pelapak online-lah ia mendapatkan jalur untuk menemukan dan menghadiri secara langsung pengajian yang diselenggarakan ustad yang selama beberapa bulan sebelumnya membuatnya terkesima melalui video Youtube—menurutnya, hal itu disebabkan sang ustad tampan, muda, cerdas, dan berpenampilan modis serta berkelas.
Ustad itu, seorang lulusan sebuah universitas Mesir, kerap mengatakan dalam majelis pengajiannya betapa kita tinggal di sebuah negeri yang keliru. Negeri para thaghut. Negeri yang tidak menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya. Ustad itu pula yang dengan berapi-api, beberapa waktu sebelumnya, menyerukan demonstrasi untuk menghukum para penista agama, mengimbau jamaahnya mendatangi dan menuntut seorang pemuda yang mengunggah meme olok-olok pada seorang habib di Facebook agar meminta maaf, dan tak henti-hentinya menggelorakan semangat untuk menciptakan negara syariat.
Ia percaya. Tentu saja ia percaya. Ia hanya bekas remaja badung yang mencari pencerahan dan pengampunan. Kadang kala, ketika menghadapi kesusahan—uang belanja yang kurang, misalnya—ia kerap berpikir bahwa itulah azab yang harus ia tanggung. Kini, setelah beberapa kali pengajian ia ikuti secara langsung dengan ketekunan dan kekhusyukan yang menakjubkan, setiap kali kesusahan itu menghampirinya, ia meyakini bahwa itu semata akibat dari pemerintahan yang tidak betul, pemerintahan yang sengaja melawan Tuhan.
Baca juga: Kemelun Asap – Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 24 Juni 2018)
“Azab Tuhan itu teramat pedih dan bisa turun dalam berbagai cara. Dan semua itu disebabkan oleh pemimpin yang laknat,” ia ingat betul bagaimana sang ustad, dengan mata merah dan tangan terkepal, kerap mengulang kalimat itu.
Ia, sebagai istri yang baik, selalu meneruskan apa yang didengarnya dari ustad kepada suaminya. Lelaki itu biasanya hanya tertawa sebelum kembali membaca atau menulis meski kadang-kadang menyahuti juga, “Itu kan cuma politisasi agama saja. Mbok ya kalau mau ikut pengajian itu cari ustad yang bener, yang adem ceramah-ceramahnya, dan tidak mencampurkan agama dengan politik.”
Jawaban semacam itu selalu sukses membikin pertengkaran kecil di antara mereka.
Bus melaju seperti kesetanan. Ia tadi memilih bus secara acak, mengabaikan plang keterangan di Terminal Bungurasih. Ia sedikit terkejut ketika kondektur—sewaktu menarik ongkos—mengatakan bus itu bertujuan Semarang. Ia belum pernah ke Semarang. Ia juga tak tahu apa yang akan ia lakukan di sana. Namun, ia membayar karcis untuk tujuan akhir—Semarang. Malam semakin ketat. Sunyi sekali di dalam bus. Padahal sejumlah penumpang tengah bercakap. Padahal kondektur berkali-kali berteriak dari jendela mencari penumpang. Padahal bus berkali-kali berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penunpang. Padahal kepalanya penuh percakapan-percakapan.