Malam Ini Sunyi Sekali

“Dia itu PKI. Kau tahu, komunis!” teriaknya tadi selepas asar.

“Dari mana kau tahu dia komunis? Kau tahu, PKI sudah lama tamat. Pemerintah sendiri yang menghabisinya. Jutaan orang dibantai tanpa diadili, jutaan lainnya dipenjara juga tanpa pengadilan. Dan sekarang kau bilang PKI masih hidup? Omong kosong macam apa ini!” kata suaminya.

“Ustad yang bilang begitu. Dan kalau kau tak percaya, kau bisa melihat ceramahnya di YouTube.”

“Ustad lagi, ustad lagi. YouTube lagi, YouTube lagi. Bosan aku mendengarnya.”

“Tapi, itu kebenaran.”

“Itu berita bohong!”

“Jadi kau mendukungnya? Dia itu keturunan China. Dia itu akan mengubah negara kita menjadi negara komunis.”

“Aku bosan dengan pembicaraan semacam ini. Sudah kubilang, aku akan tetap memilihnya. Dan kau tahu, yang kau pilih itu, yang kau dukung dan bela habis-habisan, yang katamu didukung ulama-ulama, dia itu penculik orang, pelanggar HAM, dia penjahat!”

“Kau kafir!”

“Apa katamu?”

“Dia komplotan penista ulama. Karena itu dia kafir. Dan dengan begitu, camkan ini baik-baik, setiap orang yang mendukungnya adalah kafir. Maka, kau kafir. Kau dengar aku, kau kafir!”

Baca juga: Sindrom Kucing Jantan – Cerpen Dadang Ari Murtono (Radar Surabaya, 17 Juni 2018)

Lantas sebuah tamparan melayang. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia memegangi pipi kirinya. Panas. Suaminya masuk ke kamar dan menutup pintu dengan satu bantingan keras. Ia menangis. Tubuhnya terguncang-guncang. Ia mulai meratapi dirinya sendiri. Ia menyesal kenapa ia tidak menikah dengan seorang lelaki saleh yang akan menuntunnya ke jalan yang benar, yang akan membawanya memasuki gerbang surga.

Ia, sesungguhnya, masih bisa menerima kalau suaminya mengabaikan salat atau puasa, asal lelaki itu tetap memegang keimanan dan dengan keimanan itu memilih pemimpin yang amanah, pemimpin yang direstui ulama dan akan membuat negeri ini diguyur keberkahan Ilahi. Namun, suaminya benar-benar keras kepala, sebuah ciri khas dari kaum yang belum mendapatkan hidayah. Tak peduli berapa kali ia berusaha mencerahkan suaminya, lelaki itu bersikukuh pada pendapatnya sendiri. Dan tak peduli berapa kali suaminya menyampaikan alibinya, ia tetap tidak mengerti kenapa suaminya mesti membela pemimpin kafir. Dan celakanya, itu berarti suaminya juga seorang kafir.

Namun, tiba-tiba sebuah pencerahan menghinggapi batok kepalanya. Ia berpikir bahwa perbedaan pendapat yang seakan abadi antara ia dan suaminya adalah ujian baginya. Bila ia mampu menyadarkan suaminya, ia berhasil melewati ujian itu dengan mulus. Dan bila ia tidak berhasil menyadarkan suaminya, sudah seharusnya meninggalkan lelaki itu. Sebuah pilihan yang berat, sebuah pilihan antara agama atau cinta.

Arsip Cerpen di Indonesia