Namun, akhirnya ia memilih. Ia memilih agama—apa yang diyakininya sebagai ajaran agama seperti yang dikatakan ustadnya. Ia ingin menjadi perempuan ahli surga. Maka begitulah, ia pergi. Ia berkali-kali menggumamkan kepada dirinya sendiri bahwa kepergiannya demi kebaikan, demi agama, demi masa depan yang lebih baik, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi segenap penduduk negeri. Kepergiaannya adalah jihad. Dan karena ganjaran jihad adalah surga dan bukannya kipas angin, maka itu tidak akan mudah. Semakin sering ia mengulangi gumaman itu, keyakinannya semakin membulat. Dan semakin membulat keyakinannya, semakin kerap ia mengulang gumaman itu.
Ia hanya tak menduga bila kepergian semacam ini tidak semudah kelihatannya. Ia terus memikirkan suaminya. Sebelas tahun yang penuh kenangan. Hari-hari dengan aneka penuh kenangan. Hari-hari dengan aneka kemaksiatan yang mereka lalui. Kehendak untuk memulai hidup yang baru bersama-sama. Janji untuk saling setia, saling mengingatkan. Suara kentut suaminya. Cara suaminya bersendawa setelah makan. Ia mengusap mata yang hangat. Malam terasa sunyi. Ia berharap ponselnya berdering. Dan suaminya memohonnya untuk kembali seraya menyadari kesalahannya.
“Kembalilah. Aku akan menurutimu. Aku akan menuruti apa yang dikatakan ustad. Aku sadar aku keliru,” begitulah yang ia harapkan bakal diucapkan suaminya.
Dan ia akan kembali setelah memastikan kepada suaminya, “Benarkah kau menyadari kekeliruanmu?”
“Iya, aku sungguh-sungguh. Aku menyesalinya,” jawab suaminya.
Baca juga: Pohon Pendendam – Cerpen Dadang Ari Murtono (Kedaulatan Rakyat, 03 Juni 2018)
Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mengamati benda berukuran 6 inci itu. Layar ponsel Android dengan RAM 2 GB dan memori internal 64 GB yang dipenuhi foto-foto ia dan suaminya—dan satu folder khusus untuk gambar kosmetik dagangannya—tampak gelap. Ia berusaha membukanya, meletakkan telunjuknya di pemindai sidik jari. Layar ponsel itu lebih kelam dari malam. Ia mengulangi apa yang barusan dilakukannya. Namun, ponsel itu tetap bersikukuh dalam kegelapan layarnya. Ia menepuk jidat. Ia ingat ia tidak memeriksa baterai sebelum berangkat. Namun, bagaimana ia sempat kepikiran untuk memeriksa dan mengisi baterai ponselnya? Ia sedang murka waktu itu. Ia menyesali ketololannya. Seharusnya ia lebih bisa menenangkan diri, menahan diri, dan tak terburu kabur seperti ini. Matanya kian hangat. Dadanya kian sesak. Ia ingin kembali. Ia tak tahan lagi. Ia tak peduli bila suaminya seorang kafir. Toh, pikirnya, mereka masih sama-sama manusia bukan? Mereka juga masih menjadi warga dari negara yang sama, bukan?
Ia membetulkan jilbabnya yang lebar sebelum bangkit dari kursi. (*)
Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018)