Kue Bude

“Yah, ayah tahu, tapi kau tak perlu mematut diri di depan cermin berjam-jam seperti ini.” Sang ayah memang sedari tadi memperhatikan kelakuan anaknya. Tiga jam dua puluh menit berlalu, anaknya menghabiskan masa di depan cermin hanya karena ingin menemui kue buatan Bude.

“Kalau aku tak begini, nanti kue Bude enggan aku persunting dengan mulutku, ayah.”

Baca juga: Addatuatta Matinroe ri Salemo – Cerpen Andi Makkasau (Fajar, 05 Agustus 2018)

Ikan kering laris, ikan basah pun menangis. Suatu kenyataan yang pahit bahwa sebagian besar dara yang ada di kota ‘gila’ itu, meronta karena para pemuda memilih melirik kue Bude. Kota kacau, daranya mengangkat parang dengan niat ingin menebas tangan Bude. Sudah lama mereka memendam segala risau atas kacaunya pandangan para pemuda. Namun, naas. Selangkah, akh bukan, bahkan mereka hanya hendak melangkahkan kaki tidak bisa. seperti ada segelintir virus yang mulai menyebar di daerah alat gerak bagian bawah mereka. Berhenti. Kaku. Diam. Namun, justru tangan mereka tidak terkendali dan dengan bebas memotong tangan dan kepala mereka masing-masing meski logika tak berkeinginan seperti itu.

Gila… Kota gila itu banjir darah, namun para pemuda justru tetap menikmati kue bikinan Bude. Mereka tidak peduli dan justru mendapat tontonan gratis atas hal itu. Akh, Bude memang andalan dalam hal menghidangkan dan menampilkan, pikir mereka.

Ini mungkin sebuah pernyataan yang sangsi. Namun, tangan Bude mungkin dirancang selama tujuh tahun, sembilan bulan, tiga hari. Sang Khalik dengan teliti merajut tangan Bude dari bahan-bahan yang nilainya melambung. Hingga lahirlah sepasang tangan yang paripurna.

Kue Bude sangat gila. Ia bahkan mampu meluruskan sesuatu yang bengkok, memunculkan yang tersembunyi. Namun, kue Bude telah menjadi petaka.

“Kue buatan Bude mana Bu?” Tanya suami kepada istrinya. Ia terlihat geram dengan emosi yang sengaja ia tahan. Di kamar, sang istri tetap melanjutkan kegiatan bersoleknya tanpa menghiraukan amarah sang suami, sesekali senandung riang muncul dari bibirnya.

Baca juga: Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe – Cerpen Justang Zealotous (Fajar, 08 Juli 2018)

“Ibuuuuuuuu, kue Bude mana?” teriak sang suami. Kali ini ia menegaskan amarah lewat teriakannya. Sang istri menghentakkan dengan kasar alat rias yang dipegangnya. Amarahnya tersulut. Dengan hentakan kasar yang menggema di dalam ruangan, ia menghampiri suaminya yang ada di dapur.

“Hari ini tidak ada kue buatan Bude. Dan kau harus berhenti memakan kue bude yang laknat itu!” Bentak sang istri. Wajah sang suami memerah. Percakapan mereka sarat akan arang berapi yang hendak mereka muntahkan.

Arsip Cerpen di Indonesia