“Apa kau bilang? Tidak ada?”
“IYA!!!”
“Dan kau tak perlu lagi membeli kue buatan Bude!”
PLAKK!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi sang istri, menyisakan rona merah alami di pipinya. Sakit, namun ia menahannya dengan penuh emosi.
“Brengsek!! Jika kau melarangku membeli kue Bude, masaklah! Aku menikahimu bukan ingin setiap hari melihatmu berkreasi di atas wajah palsumu itu.” Menohok. Benteng sang istri seketika roboh setelah tembakan meriam mengenai dinding terkokohnya. Sekali lagi, kue Bude menjadi mawar tak berduri di antara mawar yang berduri.
Baca juga: Yang Lain Diceritakan Kakekku tentang Tomanurung – Cerpen Ilyas Ibrahim Husain (Fajar, 03 Juni 2018)
Bude menangis. Bukan karena kota gila itu hancur olehnya, ia justru tidak peduli dengan hal tersebut. Jauh di lubuk hati Bude, ada meriam yang kapan saja meledak. Air mata tak terbendungkan manakala ia membuat kue. Hal ini hanya ia yang mengetahui. Barangkali yang membuat kue bikinan Bude enak adalah bulir bening yang saban pembuatan kuenya telah tecampur dengan adonan. Yah bisa jadi. Tapi, apakah yang membuat Bude menangis? Bukan, bukan karena petaka yang ditimbulkan oleh kue buatan Bude yang telah menghancurkan bumi palsu ini, bukan. Bude menangis karena saban ia membuat kue, ia harus memotong jarinya sesuai garis jari yang ia miliki. Membuat kucuran merah berbau amis itu menjadi pewarna alami bagi kuenya. Pantas kuenya dicari, musebabnya kue Bude telah mengalirkan rasa dari asanya yang telah lama hilang semenjak napas prianya termakan oleh kue buatannya sendiri.
Hari ini Bude menangis lagi di depan adonan kuenya, bukan karena menyesal telah menghidangkan kue beracun terhadap suaminya, namun Bude menangis karena hanya mampu menghilangkan nyawa prianya, tidak sempat ia menghancurkan dan memotong-motong habis tubuh prianya kemudian dicampur ke dalam adonan miliknya.(*)
Makassar, 1 Agustus 2018
Rahmawati, lahir tahun 1998, di Paomallimpoe, Kec. Liliriaja. Kab. Soppeng, Sulawesi Selatan. Kini masih kuliah di Universitas Muslim Indonesia, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.