Aku pun menjadi sering berdoa. Aku tak lelah mengirim harapan-harapanku dengan origami-origami kertas itu.
“Tolong antarkan mereka kembali kepadaku, Tuhan,” kataku sebelum menenggelamkan origami-origami itu. “Tolong berikan kedamaian pada setiap orang di sini.”
Origami-origami itu aku labuhkan; membiarkannya tersuruk-suruk dibawa air kali. Namun tanpa sengaja melintas pikiran: Apakah origami-origami kertas itu sampai ke rumah Tuhan? Apakah origami-origami kertas yang membawa doa-doaku itu tersesat di jalan? Aku tak tahu. Aku hanya da pat berharap origami-origami itu menyampaikan salam rindu dan doa-doaku kepada Tuhan.
***
Hari terus berganti dan semakin menumpuk kesedihan di barak pengungsian. Sudah tidak terhitung wajah-wajah tanpa nyawa yang setiap hari ditemukan. Aku belum juga menemukan sosok ayah dan ibuku. Apakah mereka masih hidup atau telah membusuk di sebuah kubangan lumpur? Air mataku mangalir. Aku kembali membuat origami kertas kemudian melabuhkanya di parit kecil dengan arus yang cukup deras. Hanya kini tiba-tiba melesat di pikiran: origami kertas yang aku kirim itu tak ada gunanya! Origami-origami itu tak pernah sampai ke rumah Tuhan. Aku kembali menangis meratapi kebodohanku.
Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)
“Mungkin, Tuhan tak pernah mendengar kan doa-doaku,” pekikku sesenggukan. “Origami-origami itu tak pernah sampai ke mana pun.”
Begitulah. Sepanjang hari yang murung itu, aku termenung di pohon yang tak jauh dari kamp pengungsian. Aku meratapi segala kemalangan yang menimpa serta doa-doa yang tanggal entah ke mana. Gerimis turun perlahan. Aku menatap ke arah tenda-tenda pengusian yang telihat suram. Tak putus terdengar dengung sirene mobil-mobil ambulans yang membawa mayat-mayat serta para korban yang berhasil diselamatkan. Mendadak, di balik gerimis yang turun pelan, aku melihat sepasang sosok yang berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka melangkah ke arahku. Sepasang senyum itu merekah indah, menyam butku.
“Kau pasti sudah lama menunggu?” sahut sepasang sosok itu. “Maafkan kami sudah membuatmu gelisah karena harus menunggu.”
Tubuhku bergetar melihat sepasang sosok yang tampak mesra dan hangat berdiri di depanku. Aku setengah tak percaya ketika sepasang tangan itu merangkul dan memelukku. Akhirnya setelah berhari-hari menunggu, mereka datang juga.