Obituarium Origami

“Ayah dan Ibu ke mana saja?” sahutku ber linang air mata. “Aku merindukan kalian!”

“Ayah dan Ibu hanya pergi sebentar.”

Aku menatap wajah mereka yang pucat. Mereka tampak lelah. Sepasang mata mereka tampak putus asa. Aku masih merasakan kehangatan yang sama ketika berada di pelukan mereka.

“Kau tidak perlu menangis,” sahut Ibu riang. “Kau hanya perlu belajar mengihklas kan.”

“Maksudnya?” aku menatap mereka.

Mereka sama sekali tak menjawab. Mereka malah mengajakku ke tempat yang cukup jauh. Namun aku tahu ke mana mereka membawaku. Mereka membawaku kembali pulang ke tempat kami dahulu tinggal. Mereka membawaku pulang ke rumah.

“Tuhan tak pernah meninggalkanmu,” sahut ayah ketika sampai di sebuah puingpuing rumah berlumpur. “Tuhan selalu mendengarkan doa-doamu.”

Baca juga: Bulan Memancar – Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)

Hujan mendadak menjadi deras ketika sepasang sosok itu tanpa aku duga menghilang. Aku tergagap. Kini di hadapanku malah ada ratusan origami yang terbangan penuh cahaya. Origami-origami dengan cahaya keperakan itu melayang-layang dan hinggap pada puing-puing kayu yang roboh. Origami-origami itu juga membawa seonggok tubuh tanpa nyawa yang tampak pucat dan koyak. Aku mengenal wajah-wajah itu. Wajah itu adalah milik Ayah dan Ibu yang aku rindukan. Tiba-tiba, aku ingin menangis. Namun sebelum aku menangis, ada seorang yang memelukku dari belakang. Seseorang dengan tubuh hangat dan wangi itu membisikkan sesuatu kepadaku,

“Tuhan selalu ada bagi mereka sedih dan kesepian, Dia selalu dan untuk mereka.”

 

Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Arsip Cerpen di Indonesia