Pencuri Kesunyian

“Aku setuju saja. Tapi, apa yang harus aku lakukan”

“Kau panggil Lisun dan dan Blurik dulu sana.”

Sum memberi perintah untuk memanggil dua anak kami, Lisun (Sun) dan Blurik (Rik). Mereka sebenarnya sudah tidur, tapi Sum memaksa agar aku membangunkan mereka. Saat bangun, dua anakku itu, langsung turun dari kasurnya.

Sum segera memberi arahan kepada dua anak kami dengan suara pelan.

“Hei, kau, Sun, pura-puralah membaca buku pelajaran. Ingat, baca dengan suara lantang, ya! Sekarang kau ambil sisa-sisa buku pelajaranmu yang sudah usang sana.”

“Dan kau, Rik, jawablah apa yang ditanyakan Sun nanti. Jawablah sesukamu dengan suara lantang pula.”

Kemudian, setelah mereka mengerti perintah Sum, dengan wajah amat serius, dia memberi perintah kepadaku.

“Kau juga, Sup, lakukan dengan sebaik-baiknya. Mari bikin malam ini menjadi meriah. Berteriak dan tertawa sepuasnya.”

Aku menganggukkan kepala saja, sebagai tanda kalau aku mengerti apa yang dia inginkan.

“Mulai,” begitu perintah Sum kemudian, dengan nada lirih.

Sun segera membuka buku pelajaran, dan membacanya dengan suara lantang.

“Satu ditambah empat sama dengan?”

Dengan menampakkan wajah tololnya, Rik segera menyambar,  “Sepuluh.”

Sumpah, aku tak bisa menahan tawa. Tawaku pecah. Sampai ngakak. Sum juga sama, tawanya mirip kuntilanak. Sun pura-pura marah pada Rik.

Baca juga: Sebuah Senyum di Balik Cadar – Cerpen Agus Salim (Pikiran Rakyat, 15 Oktober 2017) 

“Kau memang tolol, Rik. Lima, tahu!”

Rik malah tertawa. Sun tidak peduli dan membaca lagi.

“Lima ditambah lima?”

“Seratus.”

Aku tertawa lagi. Istriku juga. Sun marah-marah lagi.

“Kau memang bodoh, Rik. Sepuluh, tahu!”

Rik tertawa lagi. Sampai terbatuk-batuk. Sun merengut. Lalu melemparkan buku yang dipegangnya ke sembarang tempat. Dia ambil buku pelajaran lain, dan membaca lagi.

“Hei, bocah tolol. Dengar baik-baik soal ini: Ibu pergi ke pasar, Ayah pergi ke, titik-titik?”

“Ayah ke mana, ya?! Oh, ya, Ayah ngintip orang mandi!”

Arsip Cerpen di Indonesia