Aku tertawa lagi, terpingkal-pingkal, sampai terbatuk-batuk. Sum tertawa sampai mengeluarkan air mata. Sun mendelikkan matanya ke arah Rik yang masih menampakkan wajah tololnya.
“Ngintip orang mandi? Salah. Ayah bekerja, tahu!”
Rik hanya bisa menganga mulutnya karena sudah lelah tertawa. Sun merengut lagi. Buku di tangannya itu dilemparnya ke sembarang tempat lagi. Dia lantas mengambil buku gambar, lalu membentangkannya di atas meja. Dia perintahkan Rik mengambil pensil dan menggambar lebih dulu.
“Hei, kau, gambarlah sesukamu. Nanti biar Ayah yang menebaknya. Ya kan, Yah?”
Aku mengangguk. Rik segera menggambar. Tak jelas apa yang digambarnya. Setelah selesai, dia suruh aku menebaknya.
“Ayo, gambar apa ini?”
Aku teliti gambar itu dari segala sisi. Gambar itu mirip kepala binatang. Tapi, aku tak tahu, kepala binatang apa. Jadi, aku jawab saja sesukaku.
“Kepala monyet.”
Rik langsung menyambar, “Salah. Gambar gini aja tidak tahu. Ini kepala anjing, tahu!”
Aku tertawa. Tertawa bukan karena ucapan Rik. Tapi, karena mata dia yang membelalak seperti ingin lepas dari tempatnya.
Baca juga: Abadi Seperti Pohon Natal – Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 24 Desember 2017)
Sun mengambil alih pensil dan segera menggambar. Tangannya tangkas sekali membuat garis lengkung dan garis-garis lainnya. Sepertinya dia sedang menggambar wajah. Di wajah itu dia beri hidung dan telinga serupa punya babi. Dia pun selesai menggambar.
“Coba tebak, Yah. Gambar apa ini?”
Karena gambarnya sangat jelas, aku langsung menebak, “Wajah babi!”
Sun memekikkan suara kepadaku, “Salah. Gambar seperti ini saja tidak tahu. Ini wajah Ayah!”
Dia tertawa sendiri setelah mengatakan itu. Aku pukul kepalanya. Tapi tak terlalu keras. Sebagai peringatan saja. Agar dia tidak terlalu kurang ajar.
Tiba-tiba Sun mendadak ingin berhenti. Rik juga.
“Aku ngantuk, Yah!” kata Sun.
“Aku juga,” susul Rik.
Sum segera menyuruh mereka pergi ke kamar mereka untuk tidur lagi.
Sementara dia sendiri, tanpa pamit, juga ikut-ikutan meninggalkan aku. Dia melangkah menuju kamarnya sendiri.
Begitulah, kemeriahan yang kami buat dengan cara kami berakhir cepat. Sangat cepat bahkan. Meski itu dibuat-buat, aku tetap merasa bahagia karena bisa tertawa. Aku kira Sum juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak pada tetangga di depan rumah kami. Rupanya, keriuhan yang kami buat dengan suara lantang telah mengusik telinga mereka. Aku bisa mendengar dengan jelas suara perempuan dan laki-laki di dalam rumah itu sedang bicara soal kami.