Karomah Sebatang Lidi

Tidak hanya itu, Ibrahim terbilang paling nakal di antara teman-temannya. Ia sering membuat dada Kiaji Durahman hampir meledak lantaran tingkahnya, untung saja laki-laki sepuh itu selalu saja dapat mengontrol diri, menabahkan diri bahwa Ibrahim bisa menjadi ladang pahala baginya kalau ia sabar menghadapi bocah itu.

Baca juga: Perempuan Pesisir – Cerpen Zainul Muttaqin (Solo Pos, 08 Juli 2018) 

Kenakalan Ibrahim kali ini harus membuat Kiaji Durahman memukulkan, lebih tepatnya hanya menyentuhkan sebatang lidi pada paha bocah itu gara-gara Ibrahim tak mau membuka mulutnya untuk mengaji, malah ia meludah ke wajah Kiaji Durahman. Tak lama kemudian Ibrahim menangis, meminta segera pulang, tak mau mengaji lagi. Kiaji Durahman berusaha membujuk, namun justru Ibrahim semakin berang, mengamuk, menendang-nendang tubuh Kiaji Durahman.

Dengan rupa emosi, Ibrahim melempar Al-Quran ke pangkuan Kiaji Durahman. Bocah delapan tahun itu keluar dari langgar, berjalan tergesa-gesa menembus gelap malam hari, pulang sendirian. Tercengang teman-teman sebaya Ibrahim melihat anak lelaki Masrakib itu pulang sebelum pelajaran mengaji selesai. Kiaji Durahman mengelus dada, matanya berair, berdoa diam-diam dalam hatinya, “Semoga Allah memberimu keajaiban sehingga kamu bisa membaca Al-Quran seperti teman-teman sebayamu.”

Ibrahim tiba di rumahnya bertepatan dengan suara adzan isya dari langgar Kiaji Durahman.  Masrakib menyambutnya dengan dahi berkerut seperti garis terombang-ambing. Segera Masrakib bertanya pada anaknya, “Kenapa kamu pulang? Kenapa gak mengaji? Kenapa menangis?” Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab Ibrahim dengan tangis yang kian menderu. Mastini, istrinya Masrakib itu datang memeluk Ibrahim, ia tahu bagaimana cara menenangkan anak, barulah kemudian bertanya perihal apa yang terjadi.

Baca juga: Pembaca Neraka – Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 03 Juni 2018) 

Kemudian Ibrahim menuturkan kejadian di langgar Kiaji Durahman. Ibrahim melebihkan peristiwa itu, mengatakan pada kedua orang tuanya kalau Kiaji Durahman telah memukul pahanya hanya karena Ibrahim tak bisa membaca Al-Quran. Masrkib-Mastini, sebagai orang tentulah tidak terima anak lelaki satu-satunya diperlakukan semacam itu oleh Kiaji Durahman. Wajah Masrakib meradang, ingin rasanya ia memaki, mengumpat dan kalau perlu balas memukul pada Kiaji Durahman.

Mastini menghela napas, coba berpikir paling jernih, bahwa tidak mungkin Kiaji Durahman memukul anaknya. Sepengetahuan Mastini selama ini Kiaji Durahman tak pernah kasar pada semua anak yang mengaji kepadanya. Ia melihat paha Ibrahim, tidak ditemukan bekas pukulan apa-apa. Mastini berkeyakinan Kiaji Durahman hanya menyentuhkan batang lidi pada paha anaknya.

Arsip Cerpen di Indonesia