Karomah Sebatang Lidi

Isi dalam tempurung kepala Mastini dijelaskan kepada suaminya, tetapi Masrakib tetap bersikukuh melabrak Kiaji Durahman. “Pukulan harus dibalas dengan pukulan!” Menggelengkan kepala Mastini melihat tingkah suaminya dirasa diluar batas kewajaran. Masrakib memakai bajunya, bersiap malam ini juga mendatangi Kiaji Durahman.

Baca juga: Laki-laki yang Menjual Kelaminnya – Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 18 Maret 2018) 

“Kiaji Durahman itu guru ngaji anak kita. Tidak pantas kau semarah itu padanya. Lagi pula Ibrahim saja terlalu melebihkan. Ia tidak dipukul, hanya disentuh oleh batang lidi Kiaji Durahman.”

“Kenapa Ibrahim bisa sampai menangis?”

“Karena minder. Ia minder belum bisa baca Al-Quran. Nah, pada saat itu Kiaji Durahman menyentuhkan batang lidi ke paha Ibrahim agar ia mengikuti bacaan Kiaji Durahman. Ibrahim yang merasa minder, tidak bisa baca, lalu ia menangis dan malah marah-marah pada Kiaji Durahman.”

“Kenapa Ibrahim belum bisa baca Al-Quran? Itu semua gara-gara Kiaji Durahman tidak becus mengajarinya.”

“Tidak becus?” Mastini berkata dengan nada bertanya, memandang wajah suaminya.

“Justru abang yang tidak becus. Ibrahim itu anak kita bang, bukan anaknya Kiaji Durahman. Tugas kita yang mendidik, mengajari mengaji Ibrahim. Bukan Kiaji Durahman!”

“Tapi dia kan guru ngaji.”

“Tapi dia juga gak pernah minta dibayar sama kita. Kalau abang tahu, Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim mengatakan, mengajar satu huruf dihargai 1000 dirham. 1 huruf sama dengan 2,975 gram perak. Berapa huruf yang sudah diajarkan Kiaji Durahman? Apa abang sanggup membayarnya?” Masrakib mengerutkan kening, heran sama istrinya, kenapa Mastini bisa tahu soal isi kitab itu.

Baca juga: Pernikahan Malaikat – Cerpen Zainul Muttaqin (Merapi, 10 Agustus 2018) 

“Kiaji Durahman belum mengajarkan satu huruf pun pada Ibrahim. Karena Ibrahim belum bisa baca Al-Quran.”

“Soal Ibrahim bisa tidaknya membaca Al-Quran itu Allah yang berkehendak. Namun yang jelas, yang saya tahu bahwa Kiaji Durahman tak pernah bosan menuntun Ibrahim belajar baca Al-Quran.”

Bulan terlepas dari pelukan awan. Masrakib mulai merasakan bara di dadanya tersiram oleh kata-kata istrinya sejak tadi. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi lapuk di ruang tengah. Mastini membawakannya secangkir air putih untuk melegakan tenggorokan suaminya yang berteriak-teriak, ingin menggampar Kiaji Durahman. Lampu teplok menari-nari oleh gerakan angin melalui celah jendela yang sedikit terbuka.

Arsip Cerpen di Indonesia