“Tempat yang indah dan menyenangkan. Kau pasti sering ke sana, ya?”
“Pernah beberapa kali,” jawab laki-laki itu. “Di tempat yang menyenangkan itulah rumah-rumah rata dengan tanah. Dan bocah itu… tak tertolong.”
“Aku turut berduka. Tujuh skala Richter, tak bisa kubayangkan.”
“Kau sedang apa waktu itu?”
Perempuan itu tak segera menjawab. Ia kembali asyik dengan kameranya. Sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di luar tenda, terperangkap dalam kameranya.
“Aku sedang membaca,” jawab perempuan itu kemudian.
“Kau sedang membaca apa?”
“National Geographic.”
Baca juga: Pergi ke Bukit – Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 04 Juni 2017)
Perempuan itu bekerja untuk sebuah kantor berita independen. Ia datang sehari setelah gempa yang meluluhlantakkan sebagian besar pulau itu. Laki-laki itu mengenalnya pada suatu waktu. Mereka pernah terlibat dalam sebuah proyek penelitian buruh migran. Tapi, itu sudah cukup lama. Laki-laki itu bahkan harus memutar seluruh ingatannya ketika perempuan itu menghubunginya beberapa jam setelah gempa.
“Jadi benar, kau hanya ingin jadi relawan?” tanya laki-laki itu tiba-tiba.
Perempuan itu tertawa. Ia seperti seseorang yang sedang berkemas: memasukkan kameranya ke dalam tas, merapatkan rompi jaketnya dan membenahi letak topinya. Sesaat setelah melirik arloji di tangannya, perempuan itu mulai berjalan menuju deretan tenda.
“Benar,” jawab perempuan itu. “Tapi, aku tetap mengirim foto. Terutama soal penanganan trauma.”
“Kau mengerti banyak soal trauma healing, ya?”
Perempuan itu kembali tertawa. Laki-laki itu berjalan beriringan agak berjarak dengannya. Saat mereka tiba di tanah lapang, beberapa orang dan anak-anak menyapa mereka. Perempuan itu berhenti sebentar sebelum memasuki tenda. Ia menoleh ke arah laki-laki itu dan bertanya.
Baca juga: Bero dan Keluarganya – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 22-23 Juli 2017)
“Kau sedang membaca apa waktu itu?”
“Gadis Jeruk,” jawab laki-laki itu spontan.
“Oh. Aku lebih suka Dunia Sophie. Jostien Gaarder, kan?”
Laki-laki itu hanya tersenyum. Ada sesuatu yang ingin ia katakan sebenarnya, bahwa ketika bencana itu terjadi, ia sedang membaca Buah Jeruk—salah satu cerpen karya Ryunosuke Agutagawa. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja yang keluar dari mulutnya adalah Gadis Jeruk, sehingga perempuan itu menganggapnya sebagai novel karya Jostien Gaarder.