Laki-laki itu sadar sepenuhnya, bahwa dirinya sedang berada di dalam tenda dan tak perlu mencemaskan reruntuhan bangunan yang akan menimpanya. Tapi ketika guncangan dahsyat itu terjadi, ia menghambur keluar seperti para pengungsi lainnya. Listrik padam seketika, dan malam kembali menjadi teror untuk kesekian kalinya. Orang-orang berteriak-teriak. Orang-orang menyebut nama Tuhannya: lebih histeris, lebih mengiba dari sebelumnya. Anak-anak kembali menangis. Ia pun larut dalam kekacauan yang mencekam itu.
Malam itu terjadi gempa susulan yang ketiga—yang kemudian diralat dalam sebuah situs pemerintah sebagai gempa baru. Saat ia sedang mencari informasi lewat akses internet dari ponsel yang selalu disiapkan di kantung jaketnya, sebuah nomor yang dikenalnya menghubunginya. Ia pun segera menerimanya.
Baca juga: Peristiwa Jumat – Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 30 Juni 2013)
“Kau baik-baik saja, kan?” tanya seseorang nun jauh di sana.
“Ya, Tuhan. Tujuh skala Richter…” jawab laki-laki itu.
“Tapi kau baik-baik saja, kan?”
Laki-laki itu tak segera menjawab.
“Kau sedang membaca apa?”
Laki-laki itu masih diam.
“Kau tahu, aku sedang membaca Gadis Jeruk. Getarannya terasa sampai di sini.”
Laki-laki itu mencoba menyalakan senter di dalam ponselnya. Di tangan kirinya masih menggenggam sebuah buku saku tentang mitigasi bencana.
“Aku tadi sedang membaca sebuah buku kecil,” jawab laki-laki itu.
Selepas ia mengatakan itu, bumi bergetar kembali.
Mataram-Jember, Agustus 2018
Tjak S Parlan, sejumlah cerpen dan puisinya sudah diterbitkan media massa. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017).