“Utono, kalau kamu baca pesan ini, berarti Ibu sudah bertemu dengan-Nya. Kamu gak boleh sedih. Karena Ibu gak pernah mengajari kamu menjadi lemah. Kamu harus semangat dan terus bersyukur. Ibu sudah sangat bangga melihat kamu wisuda.
“Maaf kalau kamu sering tanya tentang bapakmu dan Ibu gak pernah jawab. Sebenarnya Ibulah yang membuat bapakmu pergi waktu kamu kecil. Ibu gak pernah sanggup menceritakan ke kamu.Tapi Ibu punya sesuatu untuk kamu.
“Bapakmu bernama Sutisna. Dia pergi waktu umurmu dua tahun. Carilah dia dan bertanya apa pun kepadanya. Ibu yakin, bapakmu pasti akan menjawab. Berkunjunglah dulu ke rumah adik bapakmu, di Semarang. Siapa tahu, dia lebih tahu di mana bapakmu. Mintalah alamatnya ke budemu. Ibu sudah titipkan kepadanya.”
“Permisi, Pak. Belum pulang?”
Sapaan petugas kebersihan di kantorku menghancurkan rentetan visual kejadian belasan tahun silam di benakku. “Iya, bentar lagi, Beh. Masih capek nih,” ujarku membelakanginya dan masih menilik alam perkotaan yang berangsur gemerlap, seraya menggenggam secarik kertas.
***
Kini mereka berdua duduk di antara banyak orang yang membuat kerumunan. Kepulan asap yang memenuhi ruang udara di sekitar mereka, selalu membuat perut Utono merasa lapar lantaran aromanya yang menggiurkan.
Baca juga: Kota-kota di Ujung Jari – Cerpen NF Rifana (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)
“Kamu tahu gak, aku tadi lihat bemo unik deh. Bemo itu dijadiin perpustakaan.”
“Perpustakaan berjalan?”
“Seratus buat kamu,” ujar Tina sambil nyengir.
“Di mana?”
“Tanah Abang. Jadi bapak itu gak cuma narik bemo. Dia tuh keliling ke sekolah-sekolah dan kampung-kampung, biar banyak anak yang baca buku.”
Matanya berseri-seri saat bercerita. Utono hanya bergumam dan mengangguk-angguk.
“Terus kadang-kadang saat malem dia sering nyetel dan nonton film bareng pakai LCD di kampung-kampung.”
“Kamu ngobrol dengan dia sampai tahu banyak?”
“Iya dong, esok aku ingin ketemu dia lagi. Aku ingin ikut keliling pas bemo jadi perpustakaan.” Raut wajahnya amat riang dengan gigi terpampang menawan. “Terus aku ingin nulis tentang dia. Pasti redakturku suka.”