Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat

Kayak biasa ya, kalau udah seneng sama sesuatu kamu menggebu-gebu.” Utono nyengir, Tina juga.

“Tapi, sayang sekali, pemerintah daerah mau meremajakan bemo.”

“Maksudmu?”

“Ya memperbarui.”

“Gratis?”

Gaklah.”

“Lo kok gitu? Kalau para supir bemo gak mau?”

Baca juga: Tujuh Anjing Penjaga – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 19 Agustus 2018)

“Ya pemerintah bakal mengoperasi kalau masih ada bemo berusia lebih dari sepuluh tahun berkeliaran di Jakarta.”

“Jadi intinya Dinas Perhubungan Jakarta ingin ngilangin bemo dari Jakarta?”

Utono hanya mengangguk. “Lagian bikin macet!”

“Lo! Gak bisa gitu dong. Justru kendaraan pribadi yang lebih berkontribusi terhadap kemacetan. Coba kalau sebagian besar penghuni Jabodetabek pakai transportasi umum, setidaknya kemacetan berkurang. Kamu kerja di Dinas Perhubungan, tapi malah bilang bemo bikin macet.”

Utono diam. Dia jarang berani membantah jika Tina sudah ketus bicara. Mereka tak lagi berucap. Hanya terdengar hiruk-pikuk di sekitar.

“Tin, cari waktu ke Solo yuk.”

“Kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang?”

***

“Hai, Beh Kinong,” sapa Tina dengan wajah riang.

“Eh, Neng Tina. Sendirian?”

Baca juga: Tanah Pancuran – Cerpen Suroso (Suara Merdeka, 26 Agustus 2018)

“Tadi sih berdua, Beh, sama abang ojek.” Tina meringis.

“Bisa aja dah, Neng Tina.”

“Wuih, yang baca rame nih, Beh,” ujar Tina seraya melirik ke bemo yang telah dikerubungi siswa-siswi SMP yang sedang istirahat.

“Lumayan, Neng. Kalau rame, aye seneng.”

Tina memperhatikan bemo itu. Ada yang membaca di kursi penumpang, kursi supir, bahkan di atas bemo. Ada yang membaca sambil mengernyitkan dahi, tertawa, menggaruk- garuk kepala, bahkan mata berkaca-kaca.

Tina senyum-senyum melihat itu. “Sungguh, pemandangan langka di Jakarta,” batin dia, lalu memotret.

Arsip Cerpen di Indonesia