“Jika di dunia ini hanya ada seorang lelaki dan lelaki itu hanya dirimu, aku tetap tak akan memilihmu menjadi kekasih. Melajang adalah pilihan terbaik dari pada hidup bersamamu,” jawabmu tegas. Mawar di tanganku kau ambil dan kau lempar ke bawah; ke jurang. Tubuhku mulai berair. Angin sepoi-sepoi yang menerpa kulitku tak mampu menghentikan aliran keringat dingin itu. Teman-teman tertawa melihatku.
“Telingamu masih normal, bukan? Kalau kamu tak menjawab, aku anggap kamu setuju,” suara Bapak membuyarkan ingatanku. Suaranya meninggi.
“Aku dan Yuli masih kuliah. Tak mungkin kami menikah dalam waktu dekat. Aku juga masih belum punya pekerjaan,” kataku pelan.
Baca juga: Firasat – Cerpen Jelsyah Dauleng (Haluan, 08-09 September 2018)
Ruangan berukuran 3×4 meter itu sunyi beberapa saat. Hanya suara tetangga yang bermain domino di teras dan di halaman rumah yang terdengar sempreng. Mereka saling ejek dan tertawa terbahak-bahak. Di desa ini, sudah menjadi kebiasaan orang-orang menghabiskan malam di rumah duka dengan main domino hingga malam ketujuh. Aku tak tahu sejak kapan kebiasaan itu ada.
“Kasihan adik sepupumu, Nak. Bila ia tak menikah hingga lepas malam ketujuh, ia hanya boleh menikah setelah seribu hari meninggalnya pamanmu. Dan itu semakin menambah umurnya yang kini sudah 22 tahun,” kata Ibu.
“Dan keluarga almarhum pamanmu sudah pasti akan memusuhi kita. Bila itu terjadi, apakah kamu tidak malu pada tetangga?” tanya Bapak.
“Sudah sudah. Tak usah paksa dia menjawab sekarang. Beri dia waktu empat hingga lima malam untuk berpikir,” ibu menjawab pertanyaan bapak dengan sebuah perintah. Aku tahu Bapak tak akan berani membantah perintah Ibu.
Baca juga: Pelarian – Cerpen Raflis Chaniago (Haluan, 18-19 Agustus 2018)
Bapak dan Nenek sudah keluar saat ibu mengatakan sesuatu dengan mengiba. “Nikahi Yuli, Nak! Nikahi dia! Jika nanti setelah pernikahanmu berjalan satu bulan, kamu merasa tidak cocok, tak masalah kamu talak adik sepupumu itu,” ujarnya.
***
Menjelang senja di hari ketujuh kematian ayahmu, kita bertemu di dapurmu saat aku hendak makan. Ibu dan Nenek memang tak pernah memasak di dapurku semenjak ayahmu meninggal. Di dapurmu, tiap menjelang petang selalu ramai oleh ibu-ibu tetangga. Mereka sibuk menyiapkan segala keperluan tahlilan.