Yang Retak di Malam Ketujuh

Di kamar, aku memandangi langit-langit sambil membayangkan apa yang akan terjadi di teras rumah, dan berharap apa yang kubayangkan benar-benar terjadi. Kau duduk di hadapan penghulu. Di sebelah kananmu harusnya ada aku, tetapi aku tak ada. Kau tetap menunggu, berharap aku datang meski menunggumu tergolong lama. Beberapa kali kau memperbaiki posisi dudukmu karena kesemutan menjalar di kakimu. Pak penghulu juga mulai gelisah. Beberapa saat setelahnya, Bapak menghampirimu dengan muka sedih, tapi wajahmu tetap berseriseri, bahagia. Saat Bapak membisikkan sesuatu pada daun telingamu, tiba-tiba kau menjerit histeris. Lalu kau pingsan seperti saat kau kehilangan ayahmu. Aku tersenyum membayangkan hal itu benar-benar terjadi.

Baca juga: Ayah Ingin Aku Menari – Cerpen Amika An (Haluan, 11-12 Agustus 2018)

Hayalanku buyar manakala mendengar suara laki-laki mengucapkan kalimat sakral dengan fasih, “Saya terima nikah dan kawinnya Yuliyatin binti Muhammad Zakaria dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.” Bulu kudukku berdiri. Buru-buru aku keluar kamar menuju teras rumah. Dan hatiku retak lagi, Yuli, saat melihatmu tersenyum di depan penghulu didampingi seorang laki-laki berjas hitam yang tanpa sepengetahuanku juga hadir pada malam ketujuh tahlilan ayahmu. Laki-laki itu pacarmu yang kini sah menjadi suamimu.

 

Muhtadi Chasbien. Lahir di Sumenep tepatnya di desa Rombiya Timur kecamatan Ganding 28 tahun yang lalu. Beberapa cerpennya muat di media cetak (lokal) dan online. Kini ia mengabdi di SMK Sumber Mas, SMPI Mambaul Ulum dan MA Al-Maarif sebagai guru mata pelajaran Matematika.

Arsip Cerpen di Indonesia