Oleh Rokhmat Gioramadhita (Solopos, 16 September 2018)

Rafli adalah anak yang tinggal di pegunungan rawan longsor. Ia baru duduk di kelas V SD. Beberapa waktu lalu terjadi gempa sangat hebat di daerah tempat tinggalnya, sehingga mengakibatkan longsor di mana-mana. Beruntung desa tempat tinggal Rafli tidak terdampak longsor.
Meski demikian, beberapa desa tetangga Rafli terdampak longsor parah. Rumah-rumah penduduk, sekolahan dan bangunan lain rata dengan tanah. Mereka harus mengungsi ke tenda darurat yang dibangun pemerintah. Bencana longsor itu membuat banyak orang merasa iba. Mereka ingin membantu. Begitu juga dengan Bu Afifah, guru Rafli di kelas V.
“Anak-anak, seperti yang kita tahu. Telah terjadi bencana longsor di desa tetangga. Kita harus membantu mereka,” ucap Bu Afifah di depan kelas sebelum memulai pelajaran.
Semua anak-anak mendengarkan apa yang Bu Afifah katakan.
Baca juga: Cara Makan Apel – Oleh Amika An (Kompas, 04 Februari 2018)
“Bagi siapa yang mempunyai baju bekas namun layak pakai, atau buku-buku yang bisa digunakan. Kalian bisa dikumpulkan untuk disumbangkan,” sambung Bu Afifah.
Di barisan belakang, Yudi mengangkat tangan. “Kalau menyumbang uang boleh kah, Bu?” tanya Yudi.
Farma pun tak mau kalah. “Aku mau menyumbang obat-obatan saja, pasti mereka membutuhkan obat.” Sementara Rafli tertunduk sedih. Ia tak bisa menyumbang apa-apa. Untuk makan sehari-hari saja keluarganya masih kesulitan.
“Apa pun bentuk sumbangannya, mau sedikit atau pun banyak. Asalkan ikhlas. Pasti sangat berguna bagi mereka. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan dari kita semua,” ucap Bu Afifah.
Mendengar ucapan Bu Afifah, Rafli merasa sangat yakin. Ia sangat ingin membantu teman-temannya yang tertimpa musibah.
Baca juga: Imbri Si Pemberani – Oleh Tyas KW (Solo Pos, 01 Juli 2018)
Keesokan harinya, semua anak-anak datang dengan membawa banyak sekali barang. Ada yang membawa baju, buku, obat-obatan, dan juga celengan. Semua barang itu dikumpulkan kepada Bu Afifah.
Sementara Rafli tak membawa apa-apa. Ia memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca di sana. Setelah semua barang terkumpul, Bu Afifah dan anak-anak kelas V datang ke tenda pengungsian untuk menyerahkan bantuan. Rafli tak mau ikut, ia memilih belajar di rumah.
Tidak ikutnya Rafli dalam penyerahan bantuan itu, membuat semua teman- temannya menggunjing Rafli.
“Uh, dia sombong sekali. Tidak mau membantu teman-teman yang sedang terkena musibah,” ucap Fatma kepada Lusi dan Dini.
“Iya, dia malah mementingkan diri sendiri,” sambung Lusi.
Hari-liari berikutnya, Rafli semakin aneh saja. Ia tak mau bergabung dengan temannya, dan memilih belajar di perpustakaan. Hal itu semakin membuat teman-temannya kesal.
Teman-temannva pun melapor kepada Bu Afifah tentang Rafli. Mereka merasa Rafli tak mempunyai sikap peduli sesama teman.
“Sudah, tidak boleh berkata seperti itu. Lebih baik kita lihat apa yang menyebabkan Rafli seperti itu,” saran Bu Afifah.
“Tapi bagaimana caranya, Bu?” Fatma mendesak.
“Sepulang sekolah, kita ikuti saja Rafli. Mudah-mudahan kita tahu apa penyebabnya,” sambung Bu Afifah.
Benar saja! Sepulang sekali, secara diain-diam Bu Afifah dan anak-anak kelas V mengikuti Rafli secara diam-diam.
Sekilas tak ada yang aneh. Rafli pulang seperti biasa. Namun di jalan, Rafli tak melalui jalan yang biasa digunakan. Ia justru berbelok menuju desa yang ada tenda pengungsiannya. Tampak Rafli menuju ke tanah lapang dekat tenda.
Baca juga: Cara Melindungi Diri – Oleh Redaksi Pikiran Rakyat (Pikiran Rakyat, 15 April 2018)
Di tanah lapang itu, ada banyak anak-anak seusia Rafli. Mereka semua membawa buku-buku yang pernah disumbangkan oleh anak-anak kelas V tempo hari. Anak-anak kelas V itu hanya menyaksikan dari kejauhan.
“Rafli, hari ini kita belajar apa?” tanya salah satu anak di tanah lapang tersebut.
“Aku baru mempelajari matematika tadi di perpustakaan, jadi hari ini kita akan belajar matematika, ya,” balas Rafli.
Anak-anak di tanah lapang itu merasa sangat bahagia, mereka bisa belajar lagi. Kedatangan Rafli sedikit mengobati rasa rindu mereka untuk bersekolah, paling tidak sampai semua kondisi membaik.
Sementara itu, semua teman-teman Rafli merasa malu. Rupanya Rafli menghabiskan waktunya setiap hari, bahkan sampai tak bermain dengan teman-temannya hanya untuk membantu anak-anak korbang longsor. Supaya mereka tetap bisa belajar.
Semua temannya justru berpikiran buruk tentang Rafli.
Bu Afifah dan semua anak-anak kelas V pun mendekati Rafli.
“Rafli!” panggil Fatma.
Mendapati teman-temannya datang, Rafli tertunduk malu.
Baca juga: Pagar Mangkok – Oleh Wiyana (Kompas, 24 Juni 2018)
“Maafkan aku, aku tak bisa membantu mereka seperti yang kalian lakukan. Aku hanya bisa membantu mereka dengan cara seperti ini,” ujar Rafli pelan.
Teman-temannya justru memeluk Rafli.
“Kamu memang hebat, Rafli,” ucap Fatma.
Akhirnya semua anak-anak kelas V pun membantu Rafli mengajari mereka untuk terus belajar.
Bantuan yang diberikan kepada yang membutuhkan tidak melulu harus berupa barang, tapi juga bisa berupa kelebihan yang kita miliki. Karena bantuan sekecil apa pun akan sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan. ***