Takut dan bingung, ia merangkak masuk ke kolong meja panjang. Kursi berderit menimbulkan suara ketika ia merangkak. Dari kolong meja terdengar langkah-langkah menyerbu ke ruang makan. Ia ketakutan setengah mati. Terlampau takut hingga ia memejamkan mata. Kedua tangannya erat sekali memeluk tas penuh makanan. Dalam pejam mata, ia memikirkan hal-hal baik yang pernah ia alami; beberapa jam sebelum ia masuk rumah, saat masih di jalanan yang panjang dan dingin, bintang-bintang menghiasi langit malam—banyak dan terserak.
Dulu, sang ibu bercerita bertemu ayahnya di bawah malam penuh bintang. Di suatu ruas jalan yang panjang dan sepi, mereka bertemu tanpa pernah tahu: takdir membawa mereka jauh. Tanpa tahu akibat pertemuan itu, mereka menghabiskan malam bersama, minum banyak minuman yang sama, dan berbaring di ranjang yang sama. Ketika pagi menyingsing, ayahnya hilang meninggalkan sebuah lukisan: potret malam penuh bintang.
“Ayahmu orang baik, Nak. Ia tinggalkan lukisan ini agar lebih mudah diingat. Jika kautemukan dia lebih dulu, ajaklah pulang,” ujar sang ibu sesaat sebelum pergi mencari ayahnya.
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah pulang. Rumah yang sepi jadi lebih sepi. Ia tinggal sendirian bersama lukisan malam penuh bintang itu. Malam selalu cerah dalam lukisan itu. Di bawah langit malam ada sebuah desa dikelilingi perbukitan. Ia membayangkan berbaring di salah satu bukit, memandangi bintang-bintang.
Sang ibu juga pernah berkata, jika tak kunjung pulang, ia sedang berkeliling dari satu bintang ke bintang lain, mencari sang ayah. “Barangkali Ayah dan Ibu di sana,” pikirnya.
Dengan satu tas penuh makanan, aku akan menyusul mereka. Dan, makan bersama mereka. Karena itu, ia harus segera keluar dari rumah ini. Ia tak akan menunda tekadnya.
Ia membuka mata perlahan. Ketika kedua kelopaknya hampir terbuka sempurna, pintu kulkas terbuka. Ia memejam kembali, tak berani membuka mata. Ia memilih tetap memikirkan hal-hal baik yang pernah ia alami. Namun yang muncul adalah hal-hal buruk yang akan terjadi setelah pintu kulkas terbuka. Suara teguk air muncul di telinga. Sungguh itu orang lain?
Namun masih dalam keyakinan sama, ia tak ingin mengambil risiko untuk meyakini memang benar ada orang lain di rumah. Sejak awal kemunculan suara itu, ia yakin: itu suara hantu. Namun mana ada hantu melangkah?
Suara langkah muncul kembali. Entah menuju ke mana. Langkah itu terdengar sayup, hingga tak terdengar sama sekali. Perasaan lega menghampiri. Kelopak matanya yang menegang, kini bisa beristirahat. Dari tas penuh makanan, ia mengambil senter. Ia harus keluar sebelum pemilik langkah itu menemukannya.