Burhan

Ia merangkak keluar sepenuh kehati-hatian. Setelah memastikan semua ia kenakan pada tempatnya, ia menyalakan senter dan berjalan mencari jalan keluar. Pintu utama bisa dia capai dengan belok kiri setelah keluar dari ruang makan. Jika ingin keluar dari sana, ia perlu kunci. Namun saat ini ia tak memegangnya. Ia juga tak mungkin belok kanan, karena lantai dua di sana, tempat suara itu muncul kali pertama. Ia tak tahu ke mana langkah itu pergi. Ia menduga langkah itu kembali ke tempat semula. Namun rasanya ia tak dapat mengambil jalan terus ke lorong. Lorong itu menghubungkan kamar-kamar dan perpustakaan. Ia tak memikirkan cara keluar apa pun selain melompat keluar melalui jendela besar di ujung lorong.

Dengan tas penuh makanan di punggung, ia memutuskan jalan terus menuju lorong yang cukup panjang itu. Lampu di lorong lantai dua telah padam. Di antara ketakutan bakal ketahuan saat melangkah menuju jendela besar atau saat setelah melompat, ia masih sempat melihat-lihat pajangan dinding di lorong itu. Senternya menerangi lukisan-lukisan dan beberapa awetan kepala hewan di sana. Sebuah kepala beruang yang disematkan lengkap dengan gigi-gigi tajam mengilat tampak jelas mempertunjukkan sisa kegarangan. Lukisan-lukisan indah terpajang, dan ia merasa salah satunya persis lukisan yang diceritakan dan dimiliki sang ibu. Beberapa meja di lorong berhias keramik-keramik antik. Ada yang bertuliskan aksara yang ia tak mengerti. Alangkah sia-sia meninggalkan semua itu. Namun ia harus pergi.

Sebuah pintu di sisi kiri lorong sedikit terbuka. Dari celah sempit itu terlihat rak-rak penuh buku diterangi cahaya bulan. Ia turunkan senter menghadap lantai dan mendekat. Dari celah sempit itu ia mengintip dan berpikir tak mungkin sosok itu ada di perpustakaan. Dengan perlahan dan senyap, ia masuk. Tak ada siapa-siapa. Hanya ia, buku-buku, dan sebuah jendala besar di hadapannya. Dari sana cahaya bulan menerangi perpustakaan. Sebuah ruang persegi yang sedikit lebih besar dari ruang dapur. Rak-rak ditempatkan bersinggungan dengan dinding. Kursi dan meja diletakkan tepat di tengah ruang, posisi yang mendapat penerangan maksimal. Di atasnya ada lampu gantung.

Ia memutuskan masuk lebih dalam, beberapa langkah, lalu duduk di sebuah kursi panjang. Matanya berhadapan dengan jendela. Di sana ia melihat bulan dan bintang-bintang. Sesaat ia lupa suara dan sosok yang tak dikenal. Perasaannya damai getir sekaligus. Ia melepaskan tas, lalu meletakkan di salah satu sisi kursi. Ia berbaring. Dengan mata terpejam, ia membayangkan tengah berkeliling dari satu bintang ke bintang, mencari jejak Ayah dan Ibu. Bertanya ke setiap bintang, lalu kembali ke desa di tengah-tengah gugusan bukit. Ia membayangkan sebuah keluarga yang terperangkap dalam lukisan. Lukisan malam yang indah, tetapi dingin dan kosong. Hanya ada dia, yang beruntung memiliki seluruh desa itu. Dan, untuk Ayah-Ibu jika mereka kembali.

Air mengalir dari matanya. Dari pintu, sepasang tangan masuk membawa sebilah pisau. Pucat dan gemetar. (28)

 

Semarang, Agustus 2018

Achmad Agung Prayoga, lahir 11 Juli 1999, besar di Semarang. Kini, mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo ini aktif di Komunitas Prosatujuh.

Arsip Cerpen di Indonesia