Oleh Nia (Pos Kupang, 16 September 2018)

DI sebuah hutan, tinggallah seekor keledai. Maxi namanya.
Maxi bagaikan katak dalam tempurung. Ia tak pernah bersahabat dan mengenal perilaku binatang hutan lainnya.
Pada suatu hari, Maxi merasa jemu dengan suasana hutan. Ia ingin berjalan-jalan.
Belum lama berjalan-jalan, ia bertemu dengan seekor binatang yang belum pernah dilihatnya.
“Selamat pagi, Kawan,” sapa zebra.
“Lo? Kau mengenalku? Kita, kan, belum pernah bertemu?” tanya Maxi keheranan.
Baca juga: Ketika Adik Lapar – Oleh Yudadi BM Tri Nugraheny (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)
“Ya memang belum pernah. Tetapi semua zebra bahkan zebra yang masih kecil pun mengenalmu. Misalnya kalau di sekolah mereka membuat kesalahan dalam berhitung atau lupa sewaktu menghafal sajak, maka….”
“Aku tahu! Pasti mereka bilang persis seekor keledai. Betul, kan?” tanya Maxi ketus. Ia merasa terhina.
“Lalu, kau, siapa namamu?” tanya Maxi.
“Namaku Zebra! Semua makhluk di hutan ini sangat menghormatiku. Manusia juga menghormatiku. Misalnya mereka selalu menyeberang di tempat penyeberangan yang dinamakan zebra cross, seperti namaku,” ujar Zebra dengan sombong.
Dengan hati sedih keledai meninggalkan teman barunya.
“Ah, kalau saja aku memiliki garis-garis hitam di tubuhku. Pasti semua makhluk akan menghormati aku juga,” pikir Maxi Keledai. Ia lalu berjalan dengan langkah gontai.
“Hai, Keledai, mengapa wajahmu begitu sedih?” sapa seekor kera.
Baca juga: Misteri Bayangan Hitam – Oleh Anna Humanira (Lampung Post, 16 September 2018)
“Eh, selamat siang, Kawan. Aku…,” jawab Maxi gelagapan.
“Sudahlah! Tenangkan dulu dirimu, baru kau ceritakan kesedihanmu,” kata kera yang terkenal cerdik. “O ya, perkenalkan namaku Kera,” sambungnya lagi.
“Kera, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar aku memiliki garis-garis hitam seperti Zebra,” kata Keledai menceritakan kesedihannya.
“Ha ha ha… Itu, sih, soal mudah. Kalau kamu mau, aku bisa menolongmu. Tapi, ada syaratnya.”