Sret..!
Perlahan Doni menyibakkan tirai jendela. Tangannya masih gemetaran. Jantungnya berdegup kencang. Tapi, ia memberanikan diri untuk melihat siapa di balik sosok bayangan hitam itu.
Sret..!
Doni menyibakkan tirai jendelanya lebih lebar.
“Huuu… huuu… huuu….”
Baca juga: Hari Pertama Puasa bagi Fajar – Oleh Iis Soekandar (Lampung Post, 20 Mei 2018)
Doni dikejutkan oleh suara tangisan anak kecil. Seketika, ia menutup kembali tirai jendela rapat-rapat dan melompat ke atas tempat tidur lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Ingin sekali ia berteriak memanggil ayahnya. Tapi, ia khawatir teriakannya akan terdengar oleh bayangan misterius itu.
***
Azan subuh menggema, membangunkan Doni dari tidurnya. Ia melompat ke arah jendela dan menyibakkan tirainya. Tidak ada siapa-siapa di pendopo.
Tok… tok… tok…!
Pintu kamar Doni diketuk.
“Doni… bangun, Nak! Kita salat subuh berjemaah.”
“Ayah!” Doni berlari membuka pintu kamarnya dan segera menceritakan semua yang dialaminya.
“Mungkin kamu cuma mimpi, Nak,” ayah mencoba menenangkan.
“Nggak mungkin. Ayo, kita periksa, Yah!” Doni menarik tangan ayahnya menuju halaman.
“Lihat! Ada jejak kaki mengarah ke pendopo, Yah,” Doni berpindah tempat, bersembunyi di balik tubuh ayahnya.
Baca juga: Lulut Ulat Gendut – Oleh Elfi Ratna Sari (Lampung Post, 13 Mei 2018)
“Jangan takut, Nak. Bayangan hitam yang kamu lihat itu bukan hantu. Hantu tidak mungkin meninggalkan jejak kaki. Iya, kan?” ayah memberi pengertian. Doni mengangguk.
“Tapi, bagaimana kalau bayangan hitam itu muncul lagi, Yah?” Doni khawatir.
“Kita tangkap bayangan hitam itu,” ucap ayah penuh semangat.
“Ayo!” pekik Doni bersemangat.
***
Malamnya ayah dan Doni sudah menyusun rencana. Malam itu Doni tidak berkonsentrasi belajar. Ia bolak-balik melirik jam dinding. Ia ingin segera menangkap bayangan hitam itu.