“Jam sebelas!” seru Doni berlari keluar kamar memanggil ayahnya.
Ayah dan Doni menunggu di balik jendela kamar Doni. Setelah menunggu beberapa lama sosok misterius yang ditunggu tak juga muncul. Tak terasa hampir satu jam mereka menunggu. Doni mulai mengantuk.
Ceplakk… Ceplakk… Ceplakk…
Tiba-tiba terdengar suara seperti kemarin malam.
“Suara itu, Yah!” bisik Doni bersemangat.
Seketika rasa kantuk Doni menghilang.
Baca juga: Jempol Kanan Dudung – Oleh Riyana Rizki (Lampung Post, 15 April 2018)
“Sst….” ayah memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir.
Mereka mengendap-endap ke luar rumah melalui pintu samping. Setelah ayah memberi aba-aba mama yang berada di dalam rumah segera menyalakan lampu pendopo.
“Aaakkhhh…!”
Sosok bayangan hitam itu terkejut. Lampu pendopo tiba-tiba menyala. Ayah dan Doni berdiri hanya beberapa langkah dari pendopo.
Misteri sosok bayangan hitam akhirnya terbongkar. Ternyata, ia adalah seorang pemulung, namanya Bu Yati. Bu Yati ingin sekali pulang ke kampung halaman, tapi ia sudah tidak memiliki uang untuk ongkos. Selama ini ia tidur di emperan toko di ujung jalan. Karena hampir tiap malam turun hujan, ia mencari tempat berteduh yang lebih baik. Leni, anaknya yang masih berumur empat tahun itu sudah tiga hari terserang demam.
Baca juga: Perpustakaan Nyonya Alesa – Oleh Muhammad Fauzi (Lampung Post, 08 April 2018)
“Ketika suasana malam telah sunyi, saya memasuki halaman rumah dengan hati-hati. Sayang, langkah kaki saya terdengar oleh Nak Doni yang sedang belajar,” ucap Bu Yati penuh sesal. Bu Yati lalu meminta maaf karena telah membuat Doni ketakutan selama beberapa hari. Ayah yang mendengar cerita Bu Yati justru merasa kasihan. Akhirnya ayah meminta Bu Yati untuk menginap saja malam itu karena cuaca sangat dingin.
Keesokan harinya, setelah membawa Leni ke dokter, ayah memberi uang untuk ongkos Bu Yati pulang ke kampung halamannya. Bu Yati sangat senang bertemu dengan keluarga Doni. Ia pun sangat berterima kasih atas bantuan yang sudah diperolehnya.
***
Malam selanjutnya Doni dapat belajar dengan tenang. Bayangan misterius tak lagi mengganggu pikirannya. Tepat jam sebelas malam, tiba-tiba…
Ceplakk… ceplakk… ceplakk..
“Hmmm… siapa itu?” Doni mulai merasa takut.
“Meooong… meooong…!”
“Huuffhh….” Doni bernafas lega. n