Pertemanan yang Tidak Wajar

“Namaku Siska,” ujar Siska.

“Aku Mira,” ungkap Mira.

“Siska, aku ingin pulang ke rumah, tapi boleh kan diantarmu?” gumam Mira ragu- ragu.

“Boleh!” sahut Siska.

Mira memberi tahu Siska tempat tinggalnya. Saat Siska keluar, ayah datang sambil mengamati Siska.

“Siska, kamu mau ke mana?” ayah memandang ulat bulu kecil alias Mira.

“Aku mau ke hutan hijau,” kata Siska.

Baca juga: Saya Indonesia – Oleh Eva Maria Sianturi (Kompas, 01 Juli 2018)

“Apa? Jangan ke sana bahaya,” tegas ayah.

Mira dan Siska kembali ke kamar dengan kecewa.

“Maaf ya, Mir, aku enggak bisa nolak perintah orangtuaku, takut dosa,” kata Siska merasa bersalah.

“Iya. Nggak apa-apa, kok. Tapi, masalannya aku tinggal di mana?” tanya Mira bingung.

Siska berpikir keras. Beberapa detik kemudian, Siska dapat ide.

“Mira! Kamu tinggal di rumah Barbie aja,” usul Siska.

Mira masuk ke dalamnya. Rumah-rumahan Siska seperti nyata.

“Siska! Aku ingin mengatakan sesuatu!” panggil Mira tiba-tiba.

“Ada apa?” balas Siska.

Siska meminta Mira menceritakan masalahnya.

Baca juga: Tersesat di Kebun Binatang – Oleh Nida Fatah (Suara Merdeka, 15 April 2018)

“Aku adalah ulat. Setiap ulat mengalami metamorfosis. Kali ini, aku akan melanjutkan fase ketiga menjadi kepompong. Dalam kepompong, aku membuat sayap kreasi sendiri. Namun, saat aku sudah jadi kupu-kupu, ada lomba sayap tercantik. Aku harus menang. Jadi, bisakah kamu membantuku?” kata Mira panjang lebar.

“Tentu saja, teman kan saling membantu!” seru Siska. Siska menggambar desain sayap kupu-kupu menjadi pelangi untuk Mira.

“Baiklah, Siska, aku akan jadi kepompong selama 15 sampai 16 hari. Tak usah tunggu aku,” kata Mira.

Siska mengangguk. Mira menjadi kepompong di taman pribadi Siska. Hari pertama, ia melihat Mira.

“Mira? Kamu di dalam?” tanya Siska.

Tak ada jawaban. Siska akhirnya menunggu terus, namun Mira tidak keluar.

“Mungkin Mira akan keluar pada hari ke-16,” pikir Siska.

Arsip Cerpen di Indonesia