Pertemanan yang Tidak Wajar

Hari ke-16 tiba. Siska menunggu. Saat Siska sedang menyiram tanaman, kepompongnya mulai retak.

“Mira!? Ayo keluar Mira!” seru Siska.

Beberapa detik kemudian, sepasang sayap menyembul keluar. Sayap itu berwarna pelangi yang sangat indah.

“Sayapku masih lemah untuk terbang,” kata Mira.

“Kalau begitu, ayo kita pergi ke lomba itu!” seru Siska.

Baca juga: Si Cantik dan Buruk Rupa – Oleh Bisri Nuryadi (Suara Merdeka, 13 Agustus 2017)

Mereka pun pergi ke lomba itu, tapi sebelumnya sayap Mira diberi daun yang lebat sehingga jadi misteri.

Di tempat lomba, Miss Alvina mulai mengabsen.

“Nomor 1 Diana! Silakan memperlihatkan sayapmu!” seru Miss Alvina.

Diana memamerkannya, bukan memperlihatkannya.

“Nomor 3! Mira! Silahkan Mira,” panggil Miss Alvina.

Mira membuka sayapnya yang berwarna pelangi. Semua orang bertepuk tangan, kecuali Diana. Beberapa menit kemudian, waktunya pengumuman.

“Baiklah juara III diraih Nufa. Juara II diraih Diana dan juara I diraih Mira!” teriak Miss Alvina.

Baca juga: Lulut Ulat Gendut – Oleh Elfi Ratna Sari (Lampung Post, 13 Mei 2018)

Mira senang sekali, Diana tiba-tiba meminta maaf kepada Mira karena sudah meremehkannya. Mira memaafkannya.

“Siska! Aku menang!” seru Mira pada Siska.

“Selamat Mira. Namun, aku ingin sesuatu,” kata Siska.

“Sebutkan apa yang kau mau?” tanya Mira.

“Aku juga ingin menjadi sahabatmu,” pinta Siska.

“Aku juga ingin menjadi sahabatmu, tapi aku malu,” jelas Mira.

Siska memandang Mira.

“Artinya kau ingin menjadi sahabatku?” tanya Siska.

“Of course, why not?”

Mira menggoda.

Siska dan Mira berpelukan sambil tertawa bersama. ***

 

Dhaffina Al Zaskhia S, Kelas V SDN 261 Margahayu Raya Blok I, Jalan Cidurian Selatan No. 13, Kota Bandung.

Arsip Cerpen di Indonesia