Lorong Kamar Bersalin Yakis
Melewati lorong debar-debar itu adalah memunguti kembali semangat yang pernah muncul saat menunggu takdir kelahiranmu, anakku
Di tiap kursi teras ada jejak-jejak kecemasan yang berdoa
Menit demi menitnya adalah harapan yang terus dilesatkan ke langit
Demi keselamatan kalian berdua
Ketika suster datang dan berkata,
“Selamat, Pak. Umurmu akan ditambah seratus abad lagi.”
Mengapa kau justru menangis, anakku?
Hidup belumlah dimulai
Mata dan telingamu belum mengenal bentuk suara
Peganglah jemari ibumu saja sebagai penunjuk keselamatan
Setelah ini dunia memang akan lekas berubah
Tapi kamar bersalin ini bukanlah tempat belajarmu menghadapi hidup
Tenanglah dalam dekapan ibumu, anakku
Ciciplah susu ibumu dan dengarkan debar bahagianya
Adakah yang kau inginkan selain ketenangan?
Namamu sudah kami persiapkan jauh hari sebagai bukti penantian
Baju-baju baru, mainan, tempat tidur, sampai cara merawatmu pun tak pernah luput dari pikiran
Mari kita pulang dari lorong-lorong kecemasan menuju rumah kebahagiaan
Di sanalah kami akan mengajarimu banyak hal
Dari cara menghitung sampai membaca
Dari membelanjakan umur sampai menabung kematian
3/8/18 Banyuputih, Kalinyamatan Jepara