Pernikahan dalam Sajak; Di Taman; Ungu; Hati; Kamar Penyair; Lorong Kamar Bersalin Yakis

Lorong Kamar Bersalin Yakis

 

Melewati lorong debar-debar itu adalah memunguti kembali semangat yang pernah muncul saat menunggu takdir kelahiranmu, anakku

Di tiap kursi teras ada jejak-jejak kecemasan yang berdoa

Menit demi menitnya adalah harapan yang terus dilesatkan ke langit

Demi keselamatan kalian berdua

 

Ketika suster datang dan berkata,

“Selamat, Pak. Umurmu akan ditambah seratus abad lagi.”

Mengapa kau justru menangis, anakku?

Hidup belumlah dimulai

Mata dan telingamu belum mengenal bentuk suara

Peganglah jemari ibumu saja sebagai penunjuk keselamatan

Setelah ini dunia memang akan lekas berubah

Tapi kamar bersalin ini bukanlah tempat belajarmu menghadapi hidup

 

Tenanglah dalam dekapan ibumu, anakku

Ciciplah susu ibumu dan dengarkan debar bahagianya

Adakah yang kau inginkan selain ketenangan?

Namamu sudah kami persiapkan jauh hari sebagai bukti penantian

Baju-baju baru, mainan, tempat tidur, sampai cara merawatmu pun tak pernah luput dari pikiran

 

Mari kita pulang dari lorong-lorong kecemasan menuju rumah kebahagiaan

Di sanalah kami akan mengajarimu banyak hal

Dari cara menghitung sampai membaca

Dari membelanjakan umur sampai menabung kematian

 

3/8/18 Banyuputih, Kalinyamatan Jepara

 

Adi Zam-zam, pemilik nama asli Nur Hadi, sastrawan, cerpenis, novelis. Karyanya banyak tersebar di media. Bersama kawan-kawan, saat ini sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan ‘Akademi Menulis Jepara’.

Arsip Cerpen di Indonesia