Prasangka

Baca juga: Desa Pancasila – Oleh Elisa DS (Kompas, 21 Januari 2018)

Keesokan hari setelah sarapan, Sari kembali ke rumah Tante Dini. Kali ini Lulu yang membukakan pintu.

“Lu, maafkan aku, ya. Sudah menuduh mu ceroboh.” Sari mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Kemarin Tante Dini cerita jika Cici yang merusakkan bukuku, bukan kamu.”

Lulu menyambut tangan Sari sambil tersenyum lebar. “Iya, sama-sama. Maafkan aku juga ya, Sari, nggak bisa menjaga bukumu. Nanti aku ganti bukumu jika tabunganku sudah cukup, ya.”

Nggak perlu, Lu. Koleksi buku ceritaku masih banyak, kok. Oh iya, ini buat Cici.” Sari mengangsurkan tas plastik ke Lulu.

Baca juga: Rencana Darmawisata – Oleh Elisa DS (Kompas, 08 April 2018)

“Makasih, ya.” Lulu tersenyum lebar tatkala membuka tas yang berisi setumpuk buku cerita.

Tiba-tiba, Cici keluar dari kamar dan menubruk Lulu hingga jatuh terguling. Cici bersorak melihat buku-buku yang berserakan. Ia pun asyik membuka-buka buku bergambar pemberian Sari tersebut.

Sari dan Lulu tertawa melihat tingkah Cici.

Mulai saat ini, Sari berjanji dalam hati. Ia akan menjauhkan diri dari prasangka agar kerukunan dan persahabat an dengan teman bisa terjaga. *

Arsip Cerpen di Indonesia