Lelaki itu beranjak keluar, meninggalkan beberapa potong ingatan di sebuah cermin yang sejak tadi menggambarkan wajahnya. Malam itu, dari depan kamar, ia melihat seorang kakek yang setiap kali menjelang sore selalu menaburkan kembang di atas kuburan Kiai Halim yang selalu terlihat basah. Entah air apa dan dari mana. Yang jelas, bukan siraman air hujan.
Tidak mungkin ada hujan pada musim seperti ini. Langit masih seterang kemarin. Tidak ada gumpalan mendung yang mengabarkan hujan akan datang. Namun setiap kali dia melihat tanah kuburan Kiai Halim di samping jalan itu selalu lembap oleh air yang terus mengalir ke samping kuburan. Kadang air itu menggenang di atas gundukan tanah. Kadang mengalir sampai ke jalan-jalan, bahkan ke segala arah.
Baca juga: Kota-kota di Ujung Jari – Cerpen NF Rifana (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)
Lelaki itu kini beranjak dari depan kamar. Dia menghampiri kakek yang masih sibuk menaburkan kembang di atas kuburan Kiai Halim.
“Mengapa Kakek sering sekali ke sini?” tanyanya.
Kakek itu diam sejenak, kemudian bersimpuh di atas rumputan yang basah oleh aliran air dari kuburan Kiai Halim. Buliran air di atas rumput itu tampak seperti butiran-butiran mutiara berserakan ketika sinar rembulan membagikan cahaya pada malam yang begitu sunyi.
“Entahlah, Kakek juga tidak tahu. Namun banyak hal mesti kamu ketahui tentang kuburan ini,” kata kakek itu sambil menundukkan muka ke kuburan Kiai Halim yang sejak tadi dia taburi kembang.
Lelaki itu menghampiri. Ia duduk di samping kakek itu dengan rasa heran. Dahinya mengerut.
Baca juga: Percumbuan Topeng – Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)
“Dulu, saat Kiai Halim masih hidup, negeri itu begitu tenteram. Kehidupan warga tidak seperti sekarang. Namun semenjak ia pergi, kerisauan menebar. Bahkan keturunannya pun dipandang buruk oleh sebagian warga. Apalagi setelah diketahui putri pertama itu menyimpan seorang lelaki di kamarnya. Sungguh, itu membuat orang-orang kabur dari kampung mereka.
Perlu kau tahu, air yang mengalir di kuburan Kiai Halim bukanlah siraman dari para peziarah. Bukan pula siraman air hujan dari langit. Itulah air tangisan.”
“Air tangisan?”
Lelaki itu makin heran mendengar perkataan si kakek.
***