Tangisan dari Bawah Tanah

Baca juga: Tujuh Anjing Penjaga – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 19 Agustus 2018)

Ya, itulah air mata kesedihan. Beberapa hari lalu, saya bermimpi melihat almarhum menangis. Ia mengenakan baju putih yang sebagian terselempangkan di satu bahu. Dengan air mata terus berlinang, dia memohon kepada sesosok makhluk yang saya tidak tahu itu siapa. Makhluk itu begitu aneh. Ia seperti semburat cahaya. Mata saya tak bisa melihat jelas sosok makhluk itu.

Berkali-kali ia memohon kepada sosok makhluk aneh itu agar dihidupkan kembali dari kematian. Namun sosok aneh itu tidak mengizinkan ia kembali ke dunia. Sebab, kematian dan kehidupan tidak bisa dipinta siapa pun, apa pun alasannya. “Kematian hanyalah kuasa-Nya,” kata sosok bercahaya itu.

Namun ia tetap memohon dengan segala cara agar kembali dihidupkan. Ia memohon dengan sangat. Kadang ia bersujud di hadapan makhluk aneh itu sambil terus menangis. Namun tetap saja makhluk aneh itu tidak membolehkan.

“Mengapa kau masih memilih hidup di sana daripada tempat yang nyaman di alam ini?” kata makhluk itu sebelum pergi.

Baca juga: Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat – Cerpen Galang Hutriadi (Suara Merdeka, 09 September 2018)

Beberapa saat setelah itu, mata saya hanya bisa melihat almarhum Kiai Halim yang terus menangis. Lalu, almarhum menghampiri saya yang melihat dari kejauhan mereka bercakap-cakap. Ia menghampiri saya sambil menangis dan berkata, “Jika kau melihat kuburanku penuh genangan air yang terus mengalir, ketahuilah itu air mata tangisku untuk anak-cucuku dan orang-orang di Negeri Barbar.”

Lalu almarhum menghilang dari pandangan saya.

***

Usai menuturkan cerita, kakek itu menunduk seraya memejamkan mata. Seakan ia menyimpan kesedihan mendalam.

Malam itu, langit makin gelap. Tak ada bintang. Cahaya bulan pun perlahan meredup.

“Bagaimana kabar putrinya, Kek?”

“Entahlah, saya juga tidak tahu,” ujar kakek itu pelan. (28)

 

Kutub, 2018

Saleojung, kelahiran Sumenep, Madura, kuliah di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Sanggar Nuun Yogyakarta. Email: saleojung@gmail.com.

Arsip Cerpen di Indonesia