Kedai Tek Opet dan Ipul

Hari-hari terlewati, bulan, masuk tahun pertama Ipul menjaga kedai, kelengangan kedai mulai tampak. Betapa tidak, rokok Ipul yang biasanya sebungkus sehari berganti jadi dua bungkus. Teh telur bisa dua kali sehari. Belum biaya pulsa dan biaya paket gawai.

Semua itu disedot dari hasil berjualan di kedai. Merokok, setiap ada orang yang mengajak ngobrol, ia selalu memantik korek gas dan menyalakan rokok. Kue kadang ia makan secara berturut-turut.

Orang pun sudah mulai jarang datang di kedai. Sering apa yang mau dibeli oleh orang barangnya tidak tersedia. Tek Opet sendiri, bila berbelanja ke pasar, terus-menerus hari ke hari kekurangan uang.

Baca juga: Bintang Semesta – Cerpen Nanda Rista Noviati (Rakyat Sumbar, 11-12 Agustus 2018)

Malam, sembari menonton di kedai, Ipul jadi sering melamun. Ia mulai merasa terbebani menjaga kedai sebab raut muka Tek Opet sudah tak seperti biasanya. Raut muka itu memperlihat rasa benci. Dan kesalahan—menyusut hebatnya isi kedai—jelas-jelas mengarah kepada Ipul.

“Kedai sudah semakin tak berisi. Bagaimana, kalau amak membuat kerupuk jengkol,” kata Tek Opet kepada Dewi.

“Bagus itu, Mak,” kata Dewi.

Pagi, pukul delapan, pergilah Tek Opet ke pasar membeli jengkol. Sampai di rumah dibuang kulitnya dan direbus. Kemudian dipipih di atas batu lada. Dewi membantu amak-nya sampai menjemur, penggorengan, membikin sambalnya, dan mengirimkannya ke kedai-kedai. Dijual titip. “Kalau aku hanya membantu Amak terus, ndak mungkin Mak. Amak tahu, Uda Ipul ndak ada kerja. Yang ada yang malah habis oleh dia. Bagaimana kalau aku bekerja, Mak.”

Baca juga: Cak Lan di Gedung Putih – Cerpen Rifat Khan (Rakyat Sumbar, 11-12 Agustus 2018)

“Kerja di mana kau?”

“Aku akan bekerja di warung nasi Etek Linda, Mak. Kemarin dia sudah berbicara ke aku, kalau ia butuh pelayan.”

“Bagus itu. Dapat jadi pelayan. Daripada jadi tukang masak.”

“Gajinya nanti bisa aku tabung, Mak.”

Hari itu Tek Opet pulang dari pasar. Siang terik sekali. Turun dari ojek, Tek Opet benar-benar merasa letih. Ketika tukang ojek menurunkan jengkol dan meletakkannya di tanah-kerikil, Tek Opet sudah tidak punya tenaga untuk mengangkat barang bawaannya.

Ipul sedang duduk di palanta kedai, menyaksikan, lepas saja ekspresinya.

Arsip Cerpen di Indonesia