Kedai Tek Opet dan Ipul

“Oi, ke sinilah kau. Mengangkang saja duduk kau. Tolonglah angkat barang ini,” kata Tek Opet kepada Ipul. Tak biasanya ia kasar pada menantu, tapi kali ini ia memang benar-benar geram.

Ipul kaget. “Rupanya ada perintah,” batinnya. Segera ia melangkah ke arah bungkusan jengkol tersebut.

“Dasar ndak punyak benak kau. Sudah nampak aku letih, kau masih saja ongkang-ongkang kaki.”

“Jangan kasar begitu, Mak.”

Baca juga: Menyimpan Buku – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sumbar, 04-05 Agustus 2018)

Etek Opet duluan masuk ke rumah lewat kedai. Disusul Ipul di belakang yang menenteng bungkusan berisi jengkol tergopoh-gopoh.

“Sudah hampir setahun setengah kau berumah tangga, belum juga punya mata pencarian,” kata Tek Opek ketika sudah tiba di dapur.

“Jangan itu yang Amak sebut, tersinggung aku, Mak. Kini aku sedang mencari kerja.”

“Sudah habis isi kedai baru kau bilang sedang mencari kerja.”

“Jangan kasar, Mak. Tersinggung aku.”

Baca juga: Semilir Angin Pagi – Cerpen Irul S Budianto (Rakyat Sumbar, 04-05 Agustus 2018)

“Bagaimana pula hidup berumah tangga, kalau laki ndak punya kerja.”

“Sudah aku sebutkan. Nanti aku cari.”

“Ndak ada lagi. Ceraikan anakku olehmu.”

Melemah seluruh tulang-belulang Ipul mendengar ucapan Tek Opet yang terakhir. Dengan lunglai ia meletakkan bungkusan berisi jengkol di dekat rak piring.

***

Malamnya Ipul bermimpi. Ia di atas sebuah biduk di laut lepas. Terombang-ambing saja. Hujan lebat sekali. Petir pun seakan tiada mau berhenti. Ia merasa dingin di atas biduk itu, tak tahu mau ke mana.

Baca juga: Roh Gentayangan – Cerpen Khairul Anam (Rakyat Sumbar, 21-22 Juli 2018)

Ketika terbangun dari mimpinya jam empat dini hari, Ipul diserang oleh pikiran macam-macam. Dan ia tidak mendapati Dewi di sampingnya. Ia keluar kamar. Ia cari ke seisi rumah. Tidak juga ia temukan. Ia ke kedai. Tidak ada Dewi.

Ipul kembali ke kasur dan sampai pagi matanya tidak mau terpejam. Pikirannya yang macam-macam pun berubah jadi kusut.

Jam enam Ipul membuka kedai, yang nyata sudah tak ada isinya. Masih ia membikin teh telur, lalu mengeluarkan bungkus rokoknya yang hanya tinggal dua batang.

Ia duduk di palanta kedai sambil menghisap rokok. Ia menantikan Tek Opet di kedai, sebab segan pula ia jika mendatangi Tek Opet ke dapur.

Jam tujuh baru Tek Opet ke kedai.

Arsip Cerpen di Indonesia