Ibu, Ayah di Mana?

“Iya, Bu.”

Kupejamkan mataku. Aku mencium wangi tubuh khas Ibu.

“Sampai kapan kau akan bermanja pada Ibu seperti itu, Mas?” celoteh Sari bila melihat kelakuanku seperti sekarang. Istriku anak pertama dari lima orang bersaudara. Dia terbiasa momong adik-adiknya sejak kecil. Tak heran bila ia tak bisa mengerti betapa manja anak tunggal seperti aku ini.

“Sari di mana, Nak?” tanya Ibu. Mungkin Ibu juga khawatir bakal mendengar celoteh Sari macam itu.

“Tenang, Bu. Dia menemani Arai tidur. Ibu juga ya, temani aku tidur malam ini.”

“Dasar anak manja. Kamu enggak malu pada Arai?”

“Biarlah, Bu. Aku malah ingin Arai tahu. Aku ingin Arai mengerti kasih Ibu tak pernah mengenal batas waktu,” jawabku sambil memutar badan. Sekarang wajahku menghadap ke perut Ibu.

“Ayah selalu tersenyum ketika melihatmu seperti ini, Nak.”

“Eh?” Sekarang aku telentang.

“Iya, Nak. Kau tak pernah tahu, karena sejak kecil ketika wajahmu menempel ke perutku, kau selalu tertidur. Melihatmu seperti ini, Ayah selalu tersenyum. Lalu ia angkat dan gendong kamu dari pangkuanku, membawamu ke kamar.”

“Jadi itulah jawaban atas pertanyaanku sejak kecil, Bu?”

“Tentang bagaimana kau bisa pindah ke kamar? Iyalah. Kau tak pernah berjalan sambil tidur,” jawab Ibu seraya tertawa.

“Selama ini Ibu bohongi aku ya? Padahal aku selalu bangga saat bercerita pada temanteman kuliahku dulu, Bu. Kusuruh temantemanku berhati-hati karena aku sering mengigau dan berjalan saat tidur.”

Kembali kutempelkan hidungku ke perut Ibu.

Malam sudah larut. Sari dan Arai pasti sudah terlelap. Aku ingin sejenak bernostalgia dengan kebiasaan lama. Sejak ada Arai, aku tak punya waktu melakukan ini. Perut Ibu adalah tempat ternyaman. Meski aku selalu terbuai pelukan Sari, perut Ibulah tempatku kembali.

Aku yakin telah terlelap sampai ada beberapa tetes air membasahi pipi dan membangunkanku. Air mata Ibu!

“Ibu kenapa?”

Ibu diam saja.

“Bu?” ujarku setelah tak lagi berbaring di pangkuannya. Kugenggam tangan Ibu.

Arsip Cerpen di Indonesia