“Ayahmu selalu mendambakan moksa, Nak.”
Pernyataan Ibu melemparkanku pada kenangan itu. “Ayah tak ingin mati, Nak,” kata Ayah saat terbaring di rumah sakit, menjelang kepergiannya.
Aku yakin kalimat Ayah tak terhenti di situ. Namun kalimat setelah itu tak jelas ia perdengarkan padaku.
“Ayah tak ingin mati, Nak. Ayah ingin moksa.” Kalimat itu tersempurnakan oleh Ibu di antara linangan air mata. “Sepanjang hidup Ayah, Ibu selalu berdoa semoga suamiku mau percaya apa yang kupercaya. Namun doaku tak terkabul, Nak. Ayah seagama dengan kita, tetapi tidak satu keyakinan.”
Aku diam, bingung. Bagaimana bisa seagama tetapi tak sekeyakinan? Memang benar, waktu kecil aku pernah bilang pada Ayah: aku ingin salat berjamaah dengannya. Ayah selalu mengajakku ke masjid dan bilang, “Kita sudah salat bersama kan, Nak?”
Aku mengangguk, walau tidak puas.
“Namun Ayah salat kan, Bu?”
Ibu mengangguk.
“Ayah puasa, zakat, baca Alquran. Ayah konsisten melaksanakan perintah agama, Bu. Bagaimana bisa Ibu meragukan keyakinan Ayah?”
“Pernah Ayah memarahi kamu menggunakan dalil agama karena kenakalanmu?”
Kembali pertanyaan Ibu membuatku terenyak. Seingatku Ayah memang tak pernah mengucapkan dalil agama dalam mendidikku. Ayah hanya bertanya, “Sudah pantaskah yang kaulakukan, Nak?” Atau, “Benar kau tak membohongi hatimu tentang kebenaran tindakanmu itu?”
“Apa hubungan hal itu dengan keyakinan Ayah, Bu?”
“Salat dan ibadah Ayah berbeda tujuan dari salat kita, Nak. Ayah tak pernah menjadikan agama sebagai dasar kerangka berpikir. Karena itulah, dia tak pernah membiarkan kita mengikuti salatnya barang sekali saja. Ayah tak pernah meyakini keberadaan surga dan neraka. Ayah tak berdoa agar tenang dan mendapat kenikmatan di alam kubur. Ayah mengidamkan kembali ke sumber kehidupan, Nak. Padahal kita berdoa setiap hari untuk orang yang berada di alam kubur. Aku tahu, bukan alam kubur yang ayahmu tuju saat meninggal.”
“Lalu di mana sekarang Ayah, Bu?”
Pertanyaan itu tak berjawab; membentur keheningan malam dan Ibu yang membisu. (28)
Fahmi Abdillah, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes). Penabuh gender dan penulis cerita ini telah menerbitkan buku kumpuan cerita pendek berbahasa Jawa, Kalingan Ayang-ayang (2018).