Sampai di rumah, saya serahkan semua durian itu kepada ketiga asisten rumah tangga saya. Mereka melahap durian itu dengan kesetanan, katanya rasanya sangat enak. Saya hanya bergidik melihat kelakuan mereka, dan langsung masuk kamar. Malam itu badan saya merasa sangat pegal. Otot-otot saya kram. Ketika saya rebahan di ranjang, saya sudah menduga suara-suara itu muncul lagi. Benar saja. Saya mendengar suara pintu yang dibuka dari luar; Ibu.
“Jana, ini susumu diminum.” Ibu masuk sambil membawa segelas susu. Perut saya masih mual akibat bau durian, sekarang ditambah Ibu yang memintaku minum susu. “Susu ibu hamil selalu membuatku kenyang, Bu. Jauhkan itu dari saya.” Saya menjawab dengan ketus.
“Loh, kamu kan memang sedang hamil….”
Baca juga: Yang Retak di Malam Ketujuh – Cerpen Muhtadi Chasbien (Haluan, 15-16 September 2018)
“Iya, hamil dengan kondisi yang sangat menyedihkan.” Ketika mengatakannya, saya menggiring Ibu untuk keluar dari kamar, dan mengunci pintu. Ketika saya menengok ke arah meja rias, gelas susu itu ada di sana.
***
Beberapa bulan lalu, saya berencana menikah dengan seorang pria. Dia keturunan Bugis. Segala hal tentang pernikahan telah kami siapkan. Dari mulai tema pernikahan, gaun, dan MUA yang akan mendandani kami di acara resepsi nanti. Perihal harta, jangan ditanya. Tampang, dia berwajah ganteng; sedikit berjenggot, tapi tetap rapi. Ketika melihatnya, kau akan melihat kebijaksanaan. Wajah seorang pemimpin. Tapi saya tidak mencintai pria itu, karena alasan yang sedikit klise; perjodohan. Tapi, 3 bulan menjelang pernikahanku dengan pria itu, mantan pacar saya menghubungi dan meminta untuk bertemu di salah satu kafe. Kami memesan kopi yang sama. Perihal makanan, dia suka sesuatu yang digoreng, maka pilihannya jatuh pada mi goreng dengan kornet di atasnya. Saya memilih tak makan, karena masihkenyang. Kami mengobrol, sedikit banyak tentang masa lalu. Entah bagaimana mulanya, malam itu kami mabuk berat. Saya menginap di tempatnya malam itu. Padahal, dia tahu bahwa dalam hitungan bulan, saya akan jadi istri seseorang. Tapi saya tahu wataknya; dia selalu menganggap sesuatu yang pernah direnggut darinya, suatu hari akan kembali padanya. Malam itu, semesta tengah berpihak pada wataknya.
***
Baca juga: Firasat – Cerpen Jelsyah Dauleng (Haluan, 08-09 September 2018)
Dua minggu menjelang pernikahan, saya tengah hamil empat minggu. Saya menduga bahwa calon suami saya mengetahuinya. Tentu saja dia tahu bagaimana pertanda wanita tengah mengandung; dia duda, berpengalaman. Lebih sialnya lagi, dia adalah seorang dokter kandungan! Keluarga pria itu mengutuki saya; mengatakan bahwa saya adalah wanita jalang yang lebih pantas tinggal di jalanan bersama anjing-anjing yang kelaparan. Ibu mengusir saya dari rumah, mengatakan bahwa Ibu sudah tak lagi punya muka di depan besannya. Ralat. Di depan calon-besan-yang-gagal-berbesan-akibat-kelakuan-jalang-anak-gadisnya. Ralat kembali. Saat ini saya sudah tidak gadis lagi.