Malam itu saya pergi dari rumah. Terusir. Saya datang mengetuk pintu rumah mantan pacar saya. Tetapi tetangganya mengatakan bahwa dia telah pindah ke Lombok. Saya mencoba menghubunginya, tetapi dia mengganti nomor teleponnya. Maka saya kembali ke rumah Ibu, bersujud di kakinya.
***
Hari ini saya tidak bekerja. Perut saya semakin membuncit. Bos juga mengatakan bahwa saya sudah harus cuti hamil; tak ada lagi pekerjaan. Tak ada lagi hari-hari yang dihadapkan pada berkas-berkas yang penuh angka dan coretan. Setiap hari saya selalu di dalam kamar; mendengar bunyi-bunyian. Kali ini saya sudah tidak asing dengan bunyi ratapan itu. Kamar saya tak berjendela. Tak ada ventilasi. Hanya ada lubang sebesar mata uang koin lima ratusan di dindingnya. Itu pun digunakan sebagai keluar masuknya kabel.
Baca juga: Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya – Cerpen Ana Nurhasanah (Haluan, 01-02 September 2018)
Sudah tiga hari ini ada cicak di dalam kamar. Suara ratapan di balik tembok kamar saja sudah membuat saya gila, ditambah seekor cicak yang tak tahu masuknya dari mana. Mungkin dia masuk melalui lubang sebesar mata uang koin lima ratusan itu, dan tak bisa keluar lagi. Saya sudah berusaha mengusirnya menggunakan sapu, dan membuka pintu kamar. Berhari-hari saya lakukan, tapi tak pernah berhasil. Menyerah, maka saya biarkan dia berada di dalam kamar. Mula-mula dia berada di atap, tetapi setelah dua hari, dia lari dan menempel tepat di atas jam dinding lonceng kamar.
Setiap kali saya selesai mandi dan telanjang, saya merasa cicak itu memerhatikan saya. Sedari kecil, saya selalu berimajinasi bahwa setiap binatang yang ada di dunia ini adalah manusia yang dikutuk. Imajinasi itu muncul setelah saya membaca dongeng Lutung Kasarung ketika sekolah dasar, dan tetap melekat dalam diri saya hingga dewasa. Bisa jadi cicak yang saat ini berada di atap kamar saya adalah seorang manusia yang dikutuk oleh Dewa. Sadar cicak itu masih memerhatikan saya, saya masuk kamar mandi sembari membawa serta baju ganti yang masih bersih.
***
Baca juga: Ke Mana Perginya Kucing-kucing – Cerpen Erwin Setia (Haluan, 25-26 Agustus 2018)
Malam itu, seperti biasa, setelah makan dan minum susu ibu hamil, saya masuk kamar, dan bebunyian dari balik tembok itu semakin melengking di telinga saya. Saya tak mengindahkan, langsung tertidur. Selang beberapa saat setelah saya memejamkan mata, saya melihat seorang pria berwajah tampan tidur di samping saya. Kulitnya sangat putih. Ketika saya menatap ke matanya, dia tersenyum, dan mengatakan “hai”. Saya masih sangat mengantuk, dan kebiasaan setelah bangun tidur, tenggorokan saya selalu tercekat, sehingga tak dapat mengeluarkan suara apa pun, saya memilih tersenyum untuk membalas sapaannya. Ketika saya tersenyum, dia mengelus pipi saya; menyelusup ke dalam selimut bernuansa bunga-bunga milik saya, dan memeluk saya dengan sangat erat. Dia meraba perut saya yang di dalamnya telah ada jantung dan hati. Dia memutar-mutarkan telunjuknya di perut saya; dari pusar ke bawah dada, dari bawah dada ke pusar; begitu terus berulang-ulang.