Sementara itu, nun jauh di sebuah kota kecil yang busuk, seorang lelaki tak sengaja melihat selebaran berisi janji-janji manis seorang motivator. Dia dengan nekat pergi ke kota sebelah dan mendatangi acara itu, yang ternyata hanya melahirkan kekesalan tak berujung di benaknya. Ia pun pergi dari gedung itu sebelum acara kelar, dan di sanalah pertemuan mereka terjadi; si perempuan yang dulunya dekil dan bau, tetapi kini sangat menawan dan harum, baru selesai menghadiri janji temu bersama beberapa calon rekan bisnisnya di seberang jalan, di sebuah tempat ngopi untuk kalangan anak-anak muda perkotaan, ketika langkahnya yang buru-buru membuatnya secara tak sengaja menabrak lelaki kampungan dari kota kecil yang kumuh.
Mereka bersitatap sejenak dan si lelaki pun berkata bahwa dia akan datang di acara yang ada di gedung tertinggi di area itu. Si perempuan juga berkata sama dan pergilah mereka berdua ke sana.
Baca juga: Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan – Cerpen Ranang Aji SP (Kompas, 12 Agustus 2018)
Bagi saya, cerita ini kadang-kadang bagai semacam naskah drama yang amat jauh dari kata logis. Bagaimana mungkin? Apa yang Tuhan pikirkan saat mereka bertabrakan? Saya benar-benar tidak paham. Saya juga tidak paham bagaimana mungkin perempuan itu tidak menaruh curiga pada lelaki cabul yang diam-diam menganggap kunjungannya ke kota ini harus membawa keuntungan baginya? Jika tak dalam bidang bisnis properti yang amat gelap bagi otaknya, boleh saja yang lain. Tubuh indah gadis itu terngiang tak henti di kepala iblisnya.
Demikianlah. Malam itu adalah malam bencana. Saya tidak bisa cerita detailnya. Ia hanya pulang begitu saja dengan hati remuk redam dan mental yang pecah berserakan dan barangkali tak akan pernah dapat dikembalikan. Saya mati-matian menahan sakit di dada yang sudah lama saya idap, sebuah penyakit dalam yang saya rahasiakan dari siapa pun, termasuk gadis tadi. Tetapi, pada akhirnya mereka pun tahu. Saya tumbang karena tak tahan mendengar kabar pemerkosaan itu.
Baca juga: Dongeng Tarka dan Sarka – Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 19 Agustus 2018)
Berhari-hari saya tidak sadarkan diri, tetapi beberapa orang kepercayaan berhasil menghimpun informasi dan akhirnya polisi bergerak meringkus pelakunya. Gadis itu tidak peduli pada apa pun lagi. Ia hanya menoleh dan menatap mata saya dengan cara yang sulit dijelaskan sebagai cara orang waras, ketika saya bilang, “Sekarang si biadab itu menelan akibatnya.”
Beberapa hari kemudian, gadis itu mati gantung diri.
Sampai berbulan-bulan kemudian, saya tidak tenang. Kerap mimpi buruk datang, dan saya berharap saya dapat menjadi mimpi buruk bagi seseorang. Di mimpi itu, saya digantung dengan rantai, tetapi saya masih bisa bernapas, dan hanya tak bisa bergerak atau kabur ke mana pun. Pelakunya tertawa-tawa bersama beberapa ekor iblis di sisinya.