Memburu Sekutu Iblis

Saya bersumpah bakal memburu lelaki itu sampai dapat. Saya bersumpah, bahkan meski kabar yang tersiar mengatakan betapa dia tidak akan bisa mati karena suatu ilmu hitam yang dipelajarinya sejak lama. Memang begitu yang kemudian dikonfirmasi oleh seorang pemulung. Ia pernah berurusan dengan pria itu, dulu sekali, saat mereka masih muda, dan dia bahkan tidak terluka walau ditebas parang berkali-kali.

“Bahkan kereta yang melintas saja dilompatinya begitu saja. Seperti di film James Bond, Pak!” kata seorang pemulung.

“Anda yakin memang dia orangnya?”

Baca juga: Ain Meni – Cerpen Felix K. Nesi (Koran Tempo, 28-29 Juli 2018)

Seorang teman membantu dengan menyodorkan selembar foto lelaki pemerkosa itu. Si pemulung mengangguk yakin. Tidak diragukan lagi. Lokasi itu cukup terang dengan adanya beberapa tiang lampu yang agaknya belum lama dibangun. Tidak ada jejak apa pun. Padahal saya berharap menemukan sebutir mata atau jari tangan seseorang.

Kami pun diam beberapa lama dan membayar pemulung itu dengan sejumlah uang yang membuatnya terlihat girang. Ia berterima kasih empat kali dan sempat berkata bahwa seluruh informasi tadi sebetulnya diberikan secara ikhlas olehnya tanpa mengharap uang atau apa.

Pemulung itu tentu tidak tahu seberapa penting mendapatkan lelaki bejat yang bisa kabur dari penjara itu untuk saat ini. Dia juga tidak tahu seberapa dalam rasa cinta saya pada gadis yang mati bunuh diri setelah diperkosa oleh lelaki yang pura-pura tidak tahu apa pun saat hadir di acara seminar bisnis beberapa bulan silam. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada kami saat pertama kali kami bertemu. Pada saat itu, orang-orang panti saling berbisik, tetapi saya tahu, seburuk apa pun gadis itu di mata mereka, dia berhak mendapat masa depan yang layak. Karena itulah saya merawatnya.

Baca juga: SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa) – Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 11-12 Agustus 2018)

Jika ada seseorang yang merusak hidupnya, dengan sayalah dia harus berhadapan. Tak peduli ilmu hitam apa pun yang dia miliki, saya tetap melanjutkan pengejaran yang tak pernah benar-benar berhasil dijalankan aparat berwenang hingga berbulan ke depan.

Seorang lelaki melompati tubuh kereta api saat kendaraan itu melintas dengan amat cepat, tetapi tidak ada sepercik darah. Saya bisa membayangkan adegan gila macam itu. Saya yakin, pada saatnya, lelaki itu akan mati. Ada banyak cara yang dapat saya perbuat. Dengan uang, saya bisa membayar iblis mana pun untuk memberinya pelajaran. Semua hanya soal waktu.

 

Gempol, 29 Juni-2 Oktober 2018

Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), dan novel Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018).

Arsip Cerpen di Indonesia