Aku mengunci pintu depan. Meletakkan bekal berisi nasi goreng itu di dalam bagasi motorku. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ayla, aku memikirkan kalimat apa yang hendak aku tabur untuknya. Aku juga tidak bisa memungkiri, bahwa aku merindukan gadis itu. Sudah hampir dua minggu kami tidak bertemu. Dan kurasa membujuk Ayla akan lebih sulit dari yang bisa kubayangkan.
“Terus saja sibuk dengan pekerjaanmu. Nanti kalau ada yang memperhatikanku, baru tahu rasa!” sungut Ayla kesal di suatu malam. “Mas sedang ada projek besar, Sayang. Mas minta kamu mengerti. Nanti saat libur tiba, mas tentu akan datang menemuimu. Sabar, ya.” jawabku lembut. Aku tahu sulit sekali membuat Ayla percaya.
Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 07 Oktober 2018)
“Terserah sajalah. Aku capek jalani hubungan seperti ini. Selalu dinomorduakan dengan pekerjaan.” Ayla memutus sambungan teleponnya. Aku tertegun. Selelah itukah dia menjalani hubungan denganku. Padahal aku bekerja juga untuk dirinya. Aku ingin menabung agar bisa segera menghalalkannya. Tapi kenapa jawaban Ayla sangat membuat pedih di hati?
Aku tersadar dari lamunanku tentang pertengkaran malam itu. Aku hampir sampai di rumah kekasihku itu. Dari ujung jalan, aku mendapati sebuah mobil silver terparkir manis di depan rumah Ayla. Aku tidak mengenali mobil itu. Aku menghentikan motorku. Memperhatikan seseorang yang sedang menunggu di situ.
Laki-laki dengan jaket abu-abu tersenyum pada si empunya rumah. Kulihat Ayla tersenyum manja ke arahnya. Aku terdiam. Siapa lelaki itu? Aku mengenali semua teman-teman Ayla, namun aku tidak mengenali wajah lelaki satu itu. Kuhidupkan mesin motorku, aku melaju mendekati mereka berdua.
Baca juga: Sarung Azan Simbah – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 07 Oktober 2018)
Aku mendapati sorot kekagetan dari wajah kekasihku. Ayla tampak shock melihat aku sudah berada di rumahnya sepagi itu. Aku tidak mengatakan apa pun, hanya memandang wajah lelaki itu dengan saksama. Mempelajari sesuatu tentang sebuah hubungan percintaan sepagi itu. Aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Ayla saat itu.
Kuserahkan bekal nasi goreng itu pada Ayla. Aku tersenyum padanya. Dia tidak harus bicara untuk menjelaskan segalanya. Mataku cukup jeli melihat ada sesuatu di antara mereka berdua. Juga genggaman tangan Ayla pada laki-laki itu, sesaat sebelum dia melepaskannya karena melihat aku.