“Ayo, turun, tetap istighfar!” ribuan orang turun dari bukti, masih membaca istighfar. Air mata mereka membasahi pinggir-pinggir sungai. Mereka terus bergerak ke bawah lagi, memasuki pinggir desa, memasuki pinggir kota kecil, dan ketika lewat tengah hari, sampailah mereka ke muara. Mereka terus membaca istighfar. Air muara yang semula keruh menjadi jernih. Laut tenang, tanpa gelombang. Kiai Ihsan mengajak orang-orang salat berjemaah di pantai. Lalu berdoa kembali, sebentar.
Baca juga: Malam Lebaran Paling Sunyi – Cerpen Mustofa W. Hasyim (Jawa Pos, 03 Juli 2016)
“Sekarang pulanglah. Pesanku, selama tiga hari jangan keluar rumah. Selama tiga bulan jangan ke hutan. Setelah itu lihat apa yang terjadi. Saat itu kalian datanglah ke surau atau masjid masing-masing untuk melakukan sujud syukur.”
“Ya, Kiai.”
Selama tiga hari langit gelap. Langit dipenuhi burung-burung aneh, bersayap hijau kemilau, tidak dketahui datang dari mana, mereka terbang ke arah hutan gundul itu, menjatuhkan bibit-bibit pohon. Kemudian turun hujan gerimis, diikuti hujan sedang selama tiga bulan. Dan setelah itu, ketika ribuan orang memandang ke arah bukit. Tampak hutan rimbun.
Mereka melihat sungai, mengalir air jernih. Mereka melakukan sujud syukur lalu mendatangi Kiai Ihsan.
Baca juga: Kesetiaan Kader – Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 23 September 2018)
“Itulah Hutan Airmata. Airmata taubat kalian telah membuat Tuhan mengutus burung-burung menjatuhkan bibit pohon lalu mengirim hujan sedang agar bibit itu tumbuh subur.”
Hutan Air Mata, orang-orang mengaguminya. Mensyukurinya. Dan ketika mereka berkumpul di rumah Kiai Ihsan, pada saat itu juga di dekat mata air di tengah hutan itu sedang ada acara. Orang-orang dari pusat dan para pejabat sedang mengadakan upacara untuk memberi penghargaan kepada penyelamat lingkungan. Yang diberi penghargaan adalah Insinyur Bundas Bandus, pimpinan perusahaan perkayuan yang kerjanya menebang pohon di hutan-hutan.
“Bapak Insinyur Bundas Bandus telah berjasa menyelamatkan lingkungan di deretan pegunungan sini, lihatlah hutan subur telah kembali,” kata pejabat dari kantor yang mengurusi Lingkungan Hidup.
Baca juga: Toa – Cerpen Herumawan PA (Kedaulatan Rakyat, 02 September 2018)
Yang hadir bertepuk tangan.
Suara yang dikeraskan oleh pengeras suara di tempat upacara itu sampai ke rumah Kiai Ihsan. Orang-orang yang ada di situ kontan marah. Sebab mereka tahu Insiyur Bundas Bandus adalah perusak lingkungan. Kenapa malah diberi penghargaan? Sedang Kiai Ihsan yang memimpin upacara penghijauan hutan gundul dengan curahan air mata warga justru tidak diberi penghargaan.