Orang-orang ingin menyerbu tempat upacara itu. Dilarang oleh Kiai Ihsan,
“Jangan, jangan biarkan saja. Biarkan saja,” kata Kiai Ihsan dengan suara lirih.
Kiai Ihsan jatuh terkulai. Dadanya mengeluarkan asap.
“Kenapa Kiai?”
Baca juga: Argo Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)
“Telah kuberikan semua rasa cinta dan kasih sayangku sampai tidak tersisa kepada kalian, kepada semua orang dan kepada kehidupan. Tetapi ternyata ada yang mengkhianatiku, memanipulasi amalku. Jiwaku marah, menyala, dan rasa sayang dan cintaku serta maafku tidak mampu memadamkannya. Maaf, aku hanya percaya kepada pengadilan di alam nanti. Selamat tinggal, jagalah hutan, dan sungai kalian.”
Ribuan orang menangis dan membaca doa. Menangis, menangis. Menangis. Air mata mereka mengalir menjadi banjir. Dari langit turun hujan lebat, mata air meledak, menyemburkan air bah tinggi. Orang-orang yang sedang gembira menyambut penghargaan untuk Insinyur Budas Bandus, terlempar ke atas, didorong semburan mata air itu. Insinyur Bundas Bandus terlempar lalu terseret arus banjir, masuk sungai, hanyut. Tidak diketahui tempat hilang dan tempat nyangkutnya. q– g
Yogyakarta, 2018
Mustofa W Hasyim, sastrawan, tinggal di Yogyakarta.